Saya bahagia mendengarnya. Saya senang saat bapak merasakan hasil yang saya kerjakan. Meskipun berupa hasil remeh-temeh seperti cucian baju maupun masakan yang pas di lidah bapak.
Sebelumnya, yang mencuci baju bapak biasanya Bu Dhe. Bu Dhe punya mesin cuci, jadi dititipkan ke sana. Sementara kami tidak punya mesin cuci. Jadi saya hanya cuci baju saya sendiri.
Sebenarnya saya mau-mau saja mencuci baju bapak tanpa mesin cuci, hanya saja bapak tidak mau, takut nanti keringnya lama dan bikin saya capek. Mungkin alasan sebenarnya adalah kasihan melihat saya. Yah, begitulah orang tua, sayang sekali ke anak.
Ah, bapak. Begitu pula kasih sayang saya ke bapak. Saya sebagai darahnya, saya akan memberikan yang terbaik yang saya bisa. Saya akan cucikan dengan sebaik mungkin. Dengan sepenuh hati.
![]() |
| father's love gambar oleh Josh Wilink via pexels |
Ilustrasi 2: Saya juga punya orang tua lain, beliau sudah anggap saya sebagai anak sendiri. Berawal dari bapak pemilik kontrakan saat saya KKN, dan sampai kini, hubungan kami masih baik.
Pernah suatu ketika saya bersilaturahim ke rumah bapak ibu angkat saya ini. Dan setelah hari menjelang malam, saya pamit pulang. Jarak rumah beliau ke jalan besar kira-kira 2 km dengan jalan bukan aspal dan area persawahan yang cukup sepi saat itu.
Saya sebenarnya berharap di antar/diiringi hingga jalan raya, tetapi bapak berkata "Bapak nggak antar ya, hati-hati pulangnya, berani toh?"
"Berani, Pak." Tentu saja saya langsung mantap bilang begitu.
Di jalan pulang saya terpikir satu hal, kalau bapak (kandung) saya, pasti saya diantar/diiringi sampai jalan raya, sejauh apa pun jaraknya. Sebab rumah saya dengan jalan raya pun jaraknya sekitar 5 km. Dan kalau hari sudah gelap, bapak selalu mengiringi perjalanan saya. Dan kalau saya sendirian pasti khawatir. Ya, tentu saja, sebab saya anak perempuan, dan satu-satunya.
-------------
Dari dua cerita di atas, saya berkesimpulan: sepeduli apapun orang lain terhadap kita, tidak akan mampu mengalahkan kepedulian yang tulus dari keluarga sendiri. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya.
Namun bukan berarti orang lain yang baik ke kita itu buruk. Yah, kita semua paham maksudnya, kan?
Disclaimer: pengalaman ini bisa saja berbeda bagi tiap orang, terlebih bagi orang yang mengalami sedikit masalah dengan keluarga intinya. Sebab setiap anak juga memiliki pengalaman yang berbeda.



7 Comments
Saya paham mbak... Emang darah lebih kental daripada air kan. Sebaik apapun orang pada kita akan lebih baik keluarga....
ReplyDeleteBetul. Dan darah itu merah, berani, simbol kekuatan. Aih, saya mengarang-ngarang mbak. Hehe
DeleteBapak angkatnya mungkin risih mba ngiringi sampe jauh.
ReplyDeleteOh iya ya barangkali Bang day.
Deleteya gitu mba, kan buka muhrim hehehe
DeleteDarah daging sendiri emang beda mbak, jika terkadang anak saya lagi bandel, saya mangkelnya cuma sebentar, krn anak kandung sendiri
ReplyDeleteWahhh sampai sejauh ini belum pernah sih tinggal dan menetap bersama dengan orang lain, kalo gak sama orang tua ya tinggal sendiri seperti sekarang ini, jadi belum bisa ngerasain tinggal sama orang secara langsung
ReplyDelete