Tuesday, September 18, 2018

[REF] Cobaan Itu Berupa Rezeki: Cerita Sebatang Cokelat

Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar kata "Cobaan"? Susah, musibah, ujian, tantangan, hal yang menyakitkan, menyedihkan, beban, butuh kesabaran, atau apa? Kalau saya boleh katakan rezeki juga adalah cobaan.

Sebuah cerita tentang rezeki yang bisa jadi anugrah, bisa jadi cobaan. 

Beberapa hari yang lalu, saya menerima sebuah pemberian coklat pekat kesukaan saya dari seorang kawan, sebut saja Mbak Revi. "Mbak Ajeng, ini kukasih coklat," Ia langsung menyodorkannya kepada saya.

Kemudian saya masih bertanya menegaskan, "Serius, Mbak?"

"Iya, ini buat Mbak Ajeng, ambil saja, Mbak."

Okay, sebentar kemudian coklat tersebut sudah saya kantongi dalam tas setelah mengucapkan terima kasih dengan ekspresi bahagia.

Kenapa harus mengucapkan terima kasih? Cukup jelas, lah, ya kita semua tahu. Hehehe

Lalu kenapa harus dengan ekspresi bahagia?

Vicco Dark Coklat produksi Puslitkoka Jember

Teman-teman saat memberikan sesuatu kepada orang lain, dan orang lain tersebut senang atau bahagia dengan pemberian kita, bagaimana perasaan kita? Kalau saya sih merasa lebih bahagia saat melihat orang yang kita berikan hadiah tersebut menerima dengan senang hati. Membuat seseorang bahagia itu simpel terkadang.

Masa kita harus pura-pura bahagia jika seandainya nggak seneng-seneng banget dengan hal itu? Begini, deh, apa susahnya loh senyum, berterima kasih dan menerima dengan senang hati. Itu sebuah nilai tukar juga yang nggak bisa dirupiahkan.

Jangan sampai kita menampakkan wajah kecewa saat orang memberi kita hadiah dengan cuma-cuma. Saya pikir itu akan membuat ia sedih karena kita nggak senang menerimanya. Jangan-jangan itu adalah pemberian tulus yang ia benar-benar usahakan untuk kita? Kita nggak pernah tahu, loh.

Tapi...

Kembali ke cerita coklat tadi. Ada suatu hal yang membuat saya dalam hati merasa, "Waduh, cobaan nih." Lho, kok?

Iya, jadi sebenarnya saya dalam masa diet menurunkan berat badan. Jadi, dua tiga bulan terakhir ini saya mengatur pola makan sedemikian rupa supaya jadi lebih baik saja. Saya mengurangi gorengan yang gurih itu, saya mengurangi nasi dan bahkan menggantinya dengan nasi merah yang lebih kaya serat, banyak makan buah dan sayur (real food), dan banyak minum air putih. Hasilnya? Yup, BB turun dengan perlahan, jerawat mulai pudar karena nggak makan sembarangan.

Nah, coklat itu kita tahu kalau kalorinya tinggi. Sekedar informasi, dalam 100 gram coklat mengandung 545 Kcal, sementara nasi putih 100 gram saja mengandung sekitar 130 Kcal (Wikipedia: Nutrition Fact). Pejuang diet pasti paham kalau kalori kita harus defisit supaya BB bisa turun. Hihihi. Bukan juga saya sok diet dan say no to makanan-makanan penggoda ini. Masalah lain adalah saya kalau makan coklat (salah satunya), biasanya akan mulai bermunculan itu jerawat keesokan harinya. Payah.

Yah, tapi mau bagaimana lagi. Itulah rezeki yang kadang menguji diri kita secara tidak langsung.

Kalau dipikir-pikir kembali, rezeki pada dasarnya adalah cobaan atau ujian dari Tuhan. Apakah kita akan menggunakannya untuk sesuatu yang bermanfaat atau justru kita menghamburkannya untuk kesenangan sesaat lantas kemudian kita jatuh terpuruk lagi? Yap, itulah rezeki yang diujikan pada kita.

Rezeki sebagaimana yang kita tahu banyak macamnya dan nggak sebatas uang. Mempunyai teman yang menyayangi, ada yang bantu mendorong sepeda motor kita saat ban bocor, mendapat kabar baik, dan lain-lain. Saya ingin tahu, rezeki apa yang teman-teman dapatkan hari ini? Jangan lupa untuk tetap bersyukur, ya.

Salam.

Sunday, September 09, 2018

[BUKU] Belanja Buku: Lebih Enak di Gramedia atau Togamas?

Seperti halnya membandingkan dua hal, tentu ada sisi kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pihak. Sebagai seseorang yang sering menyatroni toko buku (meskipun jarang beli, hehe) berikut hal-hal yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan ketika akan membeli buku di toko buku di kota anda.

'lihat' buku di toko buku

Nah, berhubung toko buku di kota saya, Jember, yang lumayan gede dan terkenal itu dua toko buku ini, Togamas dan Gramedia, maka saya akan membandingkan kelebihan dan kekurangan di toko buku ini. Siapa tahu akan jadi referensi kita untuk bahan pertimbangan mana yang lebih menguntungkan.

Tanpa ingin mendiskreditkan salah satunya, berikut ulasan saya sebagai review dan pengalaman pribadi dengan kurang dan lebihnya. Yuk, ah langsung saja.

GRAMEDIA

Lengkap
Kalau mau cari buku dari berbagai penerbit terutama yang baru rilis dan ramai-ramainya, Gramedia tempatnya. Dari buku-buku resep masakan hingga keagamaan terjejer berbagai pilihan. Dari psikologi terapan, kedokteran, hingga novel-novel sastra dan populer tersedia. Selain kelengkapannya ini, entah kenapa saya melihat tatanan buku di Gramedia ini nampak bagus dan buku-bukunya terjaga rapi walaupun sudah ada yang non-segel.

Ada diskon bagi member
Yang punya kartu member Gramedia, dapat diskon 10% untuk setiap pembelian buku dengan terbitan kelompok Gramedia seperti Grasindo, Gramedia Pustaka Utama, dan lain-lain. Dan dari pembelanjaan menggunakan kartu tersebut kita mendapat reward berupa poin yang nantinya poin tersebut bisa ditukarkan dengan buku atau pembelanjaan. Sayangnya untuk perpanjangan kartu ini (kalau nggak salah, masa berlakunya 2 tahun) butuh biaya Rp 50.000. Jadi menurut saya, jika nggak sering-sering belanja di Gramedia, justru akan minus untuk perpanjangan.

Harga Lebih Mahal
Dibandingkan toko lain, menurut saya, harga di sini cukup mahal kalau nggak dapat diskonan. Makanya sebelum saya membeli, biasanya saya cek harga dulu di sini, lalu ke toko buku lain. Kalau di sana ketemu buku yang saya inginkan dan lebih murah, saya ambil di sana (bukan Gramedia). Tapi ya memang lengkap dan banyak pilihan sih, jadi tetep cinta juga. Ibarat sebuah hubungan, kalau lagi kesal dengan kekasih, kita bisa bilang "untung sayang," jadi nggak jadi marah, deh. hehe

Keterangan Gramedia Jember


Lokasi: Jl. Trunojoyo No.85, Kauman, Kepatihan, Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68131
Telp: (0331) 489360
Jam Buka: Senin - Minggu pukul 09.00 - 21.00 WIB (Kecuali Sabtu hingga pukul 21.30 WIB) 


TOGAMAS

Si Toko Buku Diskon
Siapa yang nggak tertarik dengan diskon? Hmm. Hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi toko buku yang memasang slogan "diskon seumur hidup" ini. Bahkan tanpa memiliki member pun semua orang bisa beli dengan harga diskon 10-15%. Bahkan lagi, buku dengan harga yang sudah ditetapkan di sampul belakang buku (biasanya di bawah barcode buku dengan tulisan "harga pulau jawa sekian-sekian") itu pun masih didiskon. Sayangnya, Togamas ini masih di lingkup Jawa dan Bali untuk saat ini.

Gratis Sampul
Bagi yang punya kartu member Togamas, bisa gratis sampul sih katanya. Biaya pendaftaran jadi member sekitar Rp 25.000 terakhir saya tahu. Nah, saya nggak punya sih kartu membernya, jadi setiap beli buku ya langsung tambah sampul dengan biaya Rp 2.500 per buku. Hasil sampulnya rapi dong tentu.

Ada Garansi
Seperti yang pernah saya posting di tulisan sebelumnya tentang Mengembalikan dan Menukar Buku di Togamas. Kalau ada ketidaksesuaian dengan buku yang sudah kita beli, boleh ditukar dengan buku lain, karena Togamas memberi garansi selama 2 hari.

Kurang Lengkap
Memang jika dibandingkan dengan Gramedia, toko buku ini kurang lengkap untuk pilihan-pilihan buku di setiap kategorinya. Misalnya ingin membeli buku tentang motivasi, maka hanya ada judul-judul tertentu yang beruntung bisa kita temukan di sini sehingga bisa kita beli dengan harga diskon. Dan tatanan bukunya sedikit kurang terawat, barangkali karena efek dari orang-orang yang mengembalikan buku bergaransi tadi, sehingga buku yang dikembalikan itu diletakkan kembali di tumpukan kategorinya dan lama-kelamaan nampak kusam dan lecek.

Pernah juga saya mencari buku terbitan penerbit X barangkali ada di Togamas, kan lumayan harga diskon, pikir saya.  Namun ternyata tidak ada, hanya ada di Gramedia.

Keterangan Togamas Jember

Lokasi:  Jl. Jendral Ahmad Yani No.45, Kampungtengah, Kepatihan, Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68137
Telp: (0331) 423880
Jam Buka: Senin-Minggu (Setiap Hari) pukul 09.00 - 21.00 WIB

***

Nah, dari pengalaman tersebut, setiap kali ingin membeli pastinya kita sudah punya pertimbangan terutama dari segi ekonomi, apalagi untuk sobat-sobat yang lebih hemat. Karena setiap pilihan ada lebih dan kurangnya, bukan?

Kalau di kota teman-teman, toko buku apa yang menjadi favorit kalian? Atau bahkan jarang beli buku ya, hehehe.

Tuesday, August 28, 2018

[BLOG] Punya Blog Lebih dari Satu, Memangnya Perlu?

Banyak blogger yang memiliki blog tak hanya satu, termasuk saya. Selain blog ini, saya juga memiliki blog seputar jalan-jalan. Kalau di blog ini saya banyak menulis tentang buku, film, cerita-cerita renungan, sudut pandang, atau bahkan perjalanan ngeblog (menulis) itu sendiri. Sementara di blog sebelah (traveran), saya fokus di tulisan perjalanan, yah semacam travel diary.

Memangnya nggak bingung mengelola blog lebih dari satu? Yah, bingung-bingung enggak, sih.  Namun lebih banyak tertolongnya karena kalau melihat berbagai macam rubrik (aih, sudah macam majalah saja) dalam satu blog kadang saya galau nggak tahu kenapa, seperti pengen misahin aja gitu. Huhu.

Karena sejak dulu ingin sekali punya blog yang membahas satu topik sebagai personal brand istilah kerennya, tetapi malah nulis segala macam. Sepengetahuan saya dulu saat membaca pengalaman blogger-blogger senior di komunitas blogger, itu untuk blog yang fokus pada satu topik dan memiliki karakter akan memudahkan adanya job review atau permintaan kerja sama lainnya. Tetapi banyak juga yang dalam satu blog membahas macam-macam dan tetap bagus performance blognya.

Blogging journey 3


Tetapi kalau saya ditanya, memangnya punya blog lebih dari satu itu perlu? 

YUP, PERLU.

Dibilang kemaruk mah memang iya. Hahaha. Tetap kembali ke diri kita masing-masing, perlu kalau memang butuh. Nggak perlu, kalau memang satu blog saja sudah cukup mengcover apa yang ingin dituliskan dalam blog. Tapi kalau masih galau antara bikin blog baru atau enggak ya, itu pertanda kamu musti bikin.

Confuse
Biasanya kebingungan itu muncul kalau kita memiliki kesukaan pada lebih dari satu hal, seperti yang saya alami di tulisan Bagaimana Saya Menentukan Tema Blog?

Baca juga : Awal Mula Mengenal Blogging

Make a Move
Kalau pakai platform blogger, coba saja langsung klik "new blog" di dashboard. Toh masih gratis kan sebelum punya domain sendiri.

Nah, setelah itu coba buat tulisan di blog baru kita tersebut. Tetap harus diniati, supaya tulisannya bernyawa. Yup, saya memakai istilah bernyawa untuk tulisan yang anggap saja bermakna setidaknya bagi penulis sendiri.

Karena tulisan yang bernyawa adalah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati. 

Keep Posting
Kalau pun masih ragu atas keputusan yang sudah diambil dalam mengelola blog tambahan tersebut, lanjut posting. Kenapa? Karena lama-kelamaan nanti akan terasa sendiri apakah keputusan mengelola blog baru adalah keinginan sesaat atau justru makin mantap.

Kalau sadar ternyata itu hanya keinginan sesaat, boleh tuh dipindah tulisannya ke blog lama yang masih tetap dikelola. Sayang kan tulisan yang sudah dibikin nggak dipublikasi, kecuali jika ingin disimpan saja.

Kalau mantap, lanjutkan! Welcome to multi niche blogger. Hehe...

Selanjutnya, dengan kita memiliki blog lebih dari satu, otomatis waktu kita terbagi nggak hanya menyiapkan foto atau draft tulisan untuk satu blog, tapi ada anak kedua yang juga butuh perhatian.

Disclaimer: ini bukan tulisan tentang tutorial blog karena saya pun belum cukup ilmu jika harus memaparkan teknis blogging, melainkan sharing tentang perjalanan blogging saya yang masih terus belajar barangkali ada teman-teman yang mengalami kekhawatiran yang sama dalam membangun blog seperti yang pernah saya alami. Terima kasih.

Nah, itulah pengalaman ala Ajeng yang pernah galau harus membikin blog kedua atau tidak. Kalau teman-teman pernah resah soal mengelola blog lebih dari satu nggak? Yuk, tinggalkan cerita singkatmu.

Saturday, August 25, 2018

[BUKU] Inspirasi Cara Mengatur Koleksi Buku di Rumah

Memiliki koleksi buku sangat menyenangkan. Selain nilai kebermanfaatannya, buku-buku di rumah bisa kita tata sedemikian rupa untuk pelengkap atau bagian dari hiasan dalam rumah. Daripada sekedar ditumpuk setelah selesai dibaca, akan lebih menarik jika diatur sedemikian rupa sehingga tampak estetik.

Saya punya tips untuk teman-teman yang punya banyak buku, tapi masih kurang perhatian dengan koleksinya tersebut. Salah satunya dengan menatanya supaya kita nggak bosan.  Simak cara-caranya berikut:

Atur Sesuai Warna Sampul
Menata dengan menyesuaikan warna sampul adalah favorit saya. Koleksi buku jadi nampak terdegradasi warnanya. Misal dari hitam menuju putih atau ke merah. Antara warna buku dan latar bisa dikondisikan sesuai kemauan kita.

koleksi buku hitam ke merah

Koleksi buku putih

Berdasarkan Penerbit atau Nama Penulis
Bagi yang suka dengan karangan penulis-penulis tertentu dan menjadi kolektor bukunya, kumpulkan saja buku-buku tersebut menjadi satu kelompok dan berurut. Atau bisa dengan mengacu pada nama penerbitnya. Misalnya sederet buku isinya terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) saja, kemudian deret selanjutnya buku-buku terbitan Bentang Pustaka, dan seterusnya. 

Sesuai Genre Buku
Seperti di perpustakaan atau toko buku. Pengkategorian menurut genre buku juga menarik karena memudahkan untuk mencari buku yang ingin dibaca ulang. Misal kelompok buku fiksi, agama, motivasi, hingga psikologi. 

Bedasarkan Tebal-Tipisnya
Ada yang pernah menerapkan? Saya sendiri sih belum pernah mencoba. Buku-buku yang ditata dengan mengerucut dari yang tebal hingga ke yang tipis atau sebaliknya akan menampakan 'dikriminasi' buku-buku kecil atau tipis, pada akhirnya, semacam kasihan. Hehe

Hard Cover - Soft Cover
Buku-buku dengan hard cover biasanya memiliki kesan tersendiri saat dipandang. Ya, tidak? Karena terlihat lebih eksklusif secara tampilan fisik. Kelompokkan saja buku-buku dengan jenis cover tertentu menjadi satu dan jadikan hiasan elegan. 

Kreasikan Seperti Model di Toko Buku
Kreasi-kreasi di toko buku biasanya unik-unik, ada yang membentuk rumah-rumahan, mengerucut piramid, disusun bertumpuk, atau membentuk putaran sesuai kreasi. Kita bisa loh coba mengaplikasikannya di rumah. 

Balik Semua Buku
Ini cara antimainstream versi saya. Jadi, supaya terlihat vintage, balik semua buku agar judulnya nggak terlihat. Sekali-kali merombak penataan dengan model seperti ini supaya nggak begitu-begitu aja. Nggak enaknya ya kalau mau membaca ulang buku tersebut nggak bisa sekali ambil, kemungkinan.

Penataan terbalik
sayang sekali penerangannya nggak bagus

Jadi, setiap periode waktu atau kalau kita sedang bosan dengan penataan tertentu, boleh lah kita rombak dan tata ulang dengan cara berbeda. Biar nggak mati gaya, huhu. 

Para penumpuk buku di luar sana pastinya banyak yang punya berbagai ide dan cara yang lebih asyik. Ceritakan padaku, mana cara favoritmu? Atau share yuk jika teman-teman punya cara bagaimana dalam mengorganisir koleksi buku supaya makin banyak inspirasi bagi yang sedang membutuhkan ide. 

Wednesday, August 22, 2018

[CERITA] Gadis Kecil, Belimbing, dan Kejujuran di Iduladha

Pagi ini setelah melaksanakan shalat Ied dan bersalam-salaman dengan jamaah yang lain, seorang anak kecil perempuan menghampiri saya. Dia tetangga dekat rumah, seorang anak piatu yang masih usia sekolah dasar.

hanya ilustrasi belaka via dailyforest


"Mbak, aku kemarin minta belimbing," ujarnya dengan masih mengenakan mukena.

Saya sedikit nggak ngeh maksudnya gimana dan saya tegas tanyakan kembali, "Belimbing?"

"Iya, belimbing yang di belakang rumah Mbak Ajeng. Aku kemarin mengambil bareng Anti (temannya, yang juga tetangga saya)."

Lalu saya tersenyum dan berkata, "Oh, belimbing itu, iya nggak apa-apa."

Kemudian iya mengucapkan maaf dan terima kasih. Saya melihat raut wajah sederhana itu tersenyum lega. Sejenak kemudian ia berlalu.

Sebuah percakapan singkat, tetapi menghangatkan hati saya di pagi Iduladha ini. Sebuah kejujuran dari seorang anak perempuan. Sebuah keberanian untuk mengakui apa yang pernah ia lakukan. Tidak ada alasan saya untuk menasihati bahkan marah. Saya melihat bahwa ia sudah melalui proses pikir dan memutuskan untuk mengatakannya pada saya.

Kita semua tahu, kejujuran sekarang ini bisa menjadi barang langka. Mari kita hargai kejujuran agar tak punah. 

Lagi pula, belimbing di belakang rumah itu memang tidak pernah saya rawat, tetapi memang tumbuh dan berbuah sebagai bagian dari tumbuhan di pekarangan rumah saya.

Saya membayangkan, mungkin ada kelegaan yang menjalar seketika di hati anak tersebut. Begitu pula saya, ada sepercik bahagia menyaksikan tumbuh kembang seorang anak kecil perempuan. Dan barangkali ini adalah bagian dari berkah Iduladha untuk hari-hari kami.

Selamat Iduladha untuk sahabat-sahabat sekalian, semoga berkah selalu menaungi, dan keikhlasan berbagi penjadi pengiring langkah kita. Ceritakan padaku, adakah yang membuatmu bahagia di hari Iduladha ini?