Suatu ketika, alah..., sebenarnya kemarin, saya dan seorang sahabat karib saling bicara. Bicara biasa, hanya lewat pesan teks, wassapan, tetapi kami sama-sama tahu bahwa perasaan dan situasi kami sedang tak biasa-biasa saja.
Psikologi populer menamainya sebagai Quarter Life Crisis, krisis kehidupan seperempat abad. Banyak hal sedang kacau. Ya, kami sedang berada di situ. But I think its okay not to be okay. Anggap saja kita sedang dapat 'privilege'. Kalau kata komedian Babe Cabiita, sudah jatuh ketimpa tangga, diinjek tukangnya pula. Hahaha
Quarter life crisis tidak selalu umur 25 tahun, tetapi sebagai sebuah rentang. Krisis kehidupan tersebut dimulai pada usia 20an hingga pertengahan 30an. Bahkan krisis ini bisa dimulai di usia 18 tahun. Kondisi itu melibatkan kecemasan terhadap arah hidup maupun kualitas hidup seseorang. Menurut Wikipedia, gejala umum dari krisis ini adalah perasaan tersesat/kehilangan diri sendiri, takut, kesepian, bingung, dan hal-hal terkait langkah menuju dewasa.
Kemudian saya teringat akan sebuah film Indonesia favorit saya, judulnya "Tiga Hari untuk Selamanya", sebuah road movie perjalanan Jakarta-Jogja yang menyimpan cerita kompleks. Sangat. Ada selipan pesan yang cukup mengena di film tersebut soal rentang quarter life ini.
Tokoh utama, si Yusuf, di film tersebut mengatakan, "Pas loe umur 27, loe akan mengambil keputusan penting yang akan mengubah hidup loe. Itu di mana pintu-pintu loe akan dibuka atau ditutup sama Allah. Kalau Kurt Cobain sih ditutup.”
“Ada lagi, Bae, pas loe umur 29. Pas loe umur 29, posisi bumi sama planet Saturnus itu balik lagi di posisi yang sama waktu loe lahir. Nah, planet Saturunus itu planet yang mempengaruhi alam bawah sadar loe. Itu semua naluri alamiah loe, keluar semua. Meledak!”
"Itu tuh kayak, kaki loe di angkat, kepala loe di bawah, trus dikocok-kocok sampai isi perut loe keluar semua. Trus loe lihatin tuh isi perut loe, trus loe balikin lagi."
![]() |
| hanya gambar merenungi |
Psikologi populer menamainya sebagai Quarter Life Crisis, krisis kehidupan seperempat abad. Banyak hal sedang kacau. Ya, kami sedang berada di situ. But I think its okay not to be okay. Anggap saja kita sedang dapat 'privilege'. Kalau kata komedian Babe Cabiita, sudah jatuh ketimpa tangga, diinjek tukangnya pula. Hahaha
Quarter life crisis tidak selalu umur 25 tahun, tetapi sebagai sebuah rentang. Krisis kehidupan tersebut dimulai pada usia 20an hingga pertengahan 30an. Bahkan krisis ini bisa dimulai di usia 18 tahun. Kondisi itu melibatkan kecemasan terhadap arah hidup maupun kualitas hidup seseorang. Menurut Wikipedia, gejala umum dari krisis ini adalah perasaan tersesat/kehilangan diri sendiri, takut, kesepian, bingung, dan hal-hal terkait langkah menuju dewasa.
Kemudian saya teringat akan sebuah film Indonesia favorit saya, judulnya "Tiga Hari untuk Selamanya", sebuah road movie perjalanan Jakarta-Jogja yang menyimpan cerita kompleks. Sangat. Ada selipan pesan yang cukup mengena di film tersebut soal rentang quarter life ini.
Tokoh utama, si Yusuf, di film tersebut mengatakan, "Pas loe umur 27, loe akan mengambil keputusan penting yang akan mengubah hidup loe. Itu di mana pintu-pintu loe akan dibuka atau ditutup sama Allah. Kalau Kurt Cobain sih ditutup.”
“Ada lagi, Bae, pas loe umur 29. Pas loe umur 29, posisi bumi sama planet Saturnus itu balik lagi di posisi yang sama waktu loe lahir. Nah, planet Saturunus itu planet yang mempengaruhi alam bawah sadar loe. Itu semua naluri alamiah loe, keluar semua. Meledak!”
"Itu tuh kayak, kaki loe di angkat, kepala loe di bawah, trus dikocok-kocok sampai isi perut loe keluar semua. Trus loe lihatin tuh isi perut loe, trus loe balikin lagi."
Mungkin film itu cocok buat ditonton bagi yang berusia di rentang quarter life. Filmnya santai, tetapi banyak hal tersirat di dalamnya. Karena apa yang mereka alami dan diskusikan sepertinya relate. Soal pendidikan, keputusan, kebebasan, dan pilihan.
Coba ingat-ingat apa kata Yusuf itu, dan kamu lihat nanti. Dan selamat, bagi yang sudah mengalaminya. Bagaimana, apakah sejungkir balik itu?
Coba ingat-ingat apa kata Yusuf itu, dan kamu lihat nanti. Dan selamat, bagi yang sudah mengalaminya. Bagaimana, apakah sejungkir balik itu?



21 Comments
Belum pernah nonton teh filmnya, sepertinya lucu ya,..he-he saya dih hobinya nonton drakor sih kadang-kadang, seperti strong girl,..lucu banget dah 😂😂
ReplyDeleteWaduh bang kuanyu nontonnya, sering nangis ga tuh nonton drakor wkwkwkw.
DeleteWaduh, anak drakor yaaa hehe. Saya juga suka drakor mas kuanyu tapi juga nggak setiap waktu nonton hehe
DeleteApa ??? mas Anyu suka drakor ?
DeleteTos kita
Wah, enggak nyangka ternyata banyak yang suka drakor,..sehati kita 😂😂😂
DeleteBang Day dan Mas KuanYu, aku join yaa nonton drakornyaa. Hihii
DeleteKalau drakor itu kesukaan istri dan anak kembar cowok yg satunya,..kalau saya belum tertarik hehehe
Deleteaku sdah ngerasain dan emg itu berat bangt mbak penuh dengan tekanan.. tapi alhamdulilah bsa lewat hehe
ReplyDeleteWaahh semoga yang masih di tahap ini bisa melaluinya ya mas xixi
DeleteSepantaran kita mba, saya juga sempat ngerasa begitu. Tapi soal filmnya saya malah baru tahu dan jadi penasaran pengen nonton juga
ReplyDeleteYeee *tosss hehe
DeleteCoba tonton mas filmnya ringan sih tapi bermakna hehe
Ini karena pengaruh perubahan iklim mba.. jadi mengalami krisis lebih awal.
ReplyDeleteKayak puber kedua. kakek nenek kita mengalaminya setelah 40 tahun.
Kita itu sudah puber ke 40 wkwkw
Kalau masalah perubahan iklim, Bang Day yang paling paham 😂😂
DeleteKayak puber kedua ya bang day hehe
weeeks :P
DeleteAku lagi ngerasain kesepian,salah gejala quarter life crisis 😰!
ReplyDeleteBetulan.
Kadang aku merasa sepi seorang diri, ngga ada siapa-siapa dalam hidupku.
Eh ohh ..kok aku jadi curhat disini ..
Kabooor 😅
Wah,..mas hima minta dilempari barbel sama empunya blog nih 😂😂😂
DeleteMas Himawan, hahahaa jadi curhat nih yeee...
DeleteTenang aja mas himawan, kalau kesepian langsung jalan jalan aja terus dijadiin tulisan. Pasti langsung ramai karena pada nulis komentar hehehe
Mas KuanYu gimana kalau dilempari bakso barbel aja mas makan bareng bareng kitaa
Mas Hima ada penggemar berat tuh di blognya. Udah jadi asisten pribadi. Uhuuk :)
DeleteKayaknya saya juga lagi dalam masa itu deh
ReplyDeleteHa...Ha... Dan rasanya emang nggak enak banget, bener-bener nggak enak
Semangat ya Mba Anjani, sama sama pejuang quarter life crisis.
DeleteWow masa2 itu banyak cerita, dari suka sampai duka. Masa pencarian jati diri yg sesungguhnya, impian tuk bisa keliling dunia musnah krn sakit padahal visa utk kerja sudah ditangan,..tapi sudahlah itu masa lalu nnt kalau diterusin jadi curhat namanya hehehe 😀
ReplyDelete