Pemadaman listrik yang menimpa daerah tempat tinggal saya selama dua hari telah membawa saya kemari. Menyelesaikan satu buku dengan cepat. Ah, sering-sering saja mati lampu. Eh, jangan!
Menjadi buku fiksi pertama yang saya tamatkan di tahun 2019. Buku ini saya dapat tahun 2015 lalu saat baru terbit. Sebuah hadiah memenangi giveaway yang diadakan sang editornya sendiri, Bernard Batubara.
Menjadi buku fiksi pertama yang saya tamatkan di tahun 2019. Buku ini saya dapat tahun 2015 lalu saat baru terbit. Sebuah hadiah memenangi giveaway yang diadakan sang editornya sendiri, Bernard Batubara.
Novel ini secara garis besar bercerita soal lelaki yang dipenuhi akan kenangan tentang perempuan-perempuan yang pernah hadir dalam hidupnya.
Jika mencari sebuah buku yang mengandung banyak kata-kata filosofis dan indah namun juga tidak cengeng, ini buku bisa jadi pilihan. Seakan banyak yang ingin saya tandai di halaman-halamannya demi membaca kembali kalimat-kalimat puitis nan penuh makna.
Namun, sebagaimana hal indah di dunia ini, akan selalu ada kata "tapi".
Sebagai sebuah novel, bagi saya ini seperti potongan-potongan cerita yang tak memiliki kesatuan cerita yang kuat. Aan Mansyur menjadikan tokoh utamanya, lelaki bernama Jiwa, sebagai benang yang menyusun kisah demi kisah itu sendiri. Saya terkadang hanya merasa membaca susunan kalimat-kalimat puitis menjadi cerita yang membuat saya hilang fokus pada ceritanya.
Dalam ceritanya, ini adalah novel dalam novel. Sebuah cerita yang ditulis oleh Jiwa yang dibantu penyempurnaannya oleh Nanti, perempuan tokoh utama dalam novel ini. Nanti memberi banyak catatan kaki dalam buku ini seakan membantu pembaca apa yang dimaksud oleh Jiwa. Agak membingungkan? Kamu harus baca sendiri.
Sebenarnya pesan utama (setidaknya menurut saya) yang penulis sajikan adalah bahwa kehidupan lelaki juga tak jauh beda dengan perempuan jika sudah menyentuh soal cinta. Penuh penantian dan kesetiaan jika sudah bertemu dengan sosok tertentu. Pilihan bersetia yang mungkin banyak dipertanyakan orang. Kenapa? Karena bersetia pada pilihan sendiri.
Pilihan untuk memeluk erat orang yang kita cintai hingga tua, pilihan untuk menunggu, bahkan pilihan untuk tidak berpasangan bagi perempuan-perempuan yang dipandang menyimpang oleh masyarakat.
NOVEL UNTUK INTROVERT
Orang-orang yang cenderung introvert dan menyukai kesepian akan merasa berkaca saat membaca novel ini. Kesukaan tokoh terhadap hujan, karakter tokoh yang cenderung perasa dan menghindari keramaian, dan hal-hal imajinatif yang introvert banget. Bahkan buku ini sebagai cerminan seorang introvert yang memeluk masa lalunya dengan baik.
Memang, karya seseorang itu tak jauh dari karakter orang itu sendiri. Saya sering meretweet unggahan Aan Mansyur di twitter. Unggahannya kadang ngena banget bagi orang introvert macam saya. Ah, atau hanya saya saja yang merasa mirip dengan dia. Hahaha.
COVER NOVEL LELAKI TERAKHIR YANG MENANGIS DI BUMI
Jika melihat sampulnya, jelas ada gambar seorang perempuan yang cukup besar hampir setengah halaman. Padahal judulnya mengambil kata "lelaki". Saya sempat bingung awalnya. Namun saat membaca keseluruhan cerita, barulah paham.
Ya, karena novel ini menceritakan perempuan dalam kenangan seorang lelaki. Di pojok kiri bawah terdapat gambar laki-laki dengan asap rokoknya membentuk gambar perempuan. Ah, ilustrasi yang pas sekali oleh Himawan Wicaksono ini.
Tak heran jika judul awal novel ini adalah Perempuan, Rumah Kenangan.
KUTIPAN-KUTIPAN TERBAIK AAN MANSYUR DALAM DI BUKU INI VERSI SAYA
Cukup banyak quotes di novel Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi yang bagus untuk dibikin status atau caption. Hehehe. Berikut ini 5 kutipan favorit saya di novel ini.
Bencana selalu punya kemampuan membuat manusia menjadi makhluk lemah dan pemaaf.
(halaman 10)
Waktu adalah penyunting yang baik hati. Waktu tidak menghapus apapun. Ia juga tak menyembuhkan luka seperti yang diyakini banyak orang.(halaman 11)
Mengetahui masa kecil seseorang adalah salah satu cara terbaik untuk memahami kenapa ia mengambil keputusan-keputusan tertentu dalam hidupnya.(halaman 17)
Aku tumbuh dengan pikiran yang menyimpang.(halaman 92)
Hidupku, sesungguhnya tidak lebih dari arena pertempuran melawan diriku sendiri. Dan, celakanya, aku selalu kalah. (Halaman 224)
Itu sekilas catatan pembacaan dari saya. Jika ada yang pernah membacanya, silakan tinggalkan komentar tentang kesanmu. Ngomong-ngomong, buku apa yang kawan baca di tahun ini?




12 Comments
Kalau saya, baru selesai baca kisah Usman bin Affan.. Alasan membacanya karena penasaran aj..
ReplyDeleteWow keren, sejarah islam ya kak.
DeleteIni namanya mati lampu membawa berkah hahaha akhirnya selesaikan 1 buku dengan cepat dan direview di sini. Rugi baru baca sekarang, kalau tidak kan pas di Maumere bisa saya cari sekalian hehehe. Makasih, Jeng :D
ReplyDeleteHehe iya kak Tuteh, mati lampu membawa berkah. Yok ah ke Maumere ehehe
Delete
ReplyDeleteReview novel yang menarik...Pengenya full baca novelnya karena lihat riviewnya saja sudah seru pastinya..😄
Baca yok mas satria :D esuipp
Deletesaat melihat sampunya saya sendiri juga terheran, kok jauh beda dengan apa yang tertulis dijudulnya. Jadi penasaran banget nih, biar lebih tahu isi cerita novelnya.
ReplyDeleteLelaki tetapi gambar perempuan ya mas djangkaru. Heheh
DeleteLima kutipan favorit mbak Ajeng di novel itu emang bagus sekali...
ReplyDeleteSaya kalau baca fiksi nggak pernah selesai mbak, baru baca sedikit udh harus di kembalikan ke perpusda hihihi
Sebelum kena denda ya mas Aris hehehe.. Saya jaman SMA dulu pun lekas2 kasih kembali juga.
Deleteak introvert... akh tapi tidak tempat yang terlalu sepi sih, asalkan ada koneksi internet bisa lah
ReplyDeleteNahh betul ituu biar tetep update hehe
Delete