Akhirnya, hari ini kamu membacanya.
Kamu tahu hari ini hari apa. Ya, hari kamis seperti biasa. Tidak ada istimewanya memang. Memangnya ada apa? Ya, tidak ada apa-apa. Kamu tidak usah terlalu percaya diri dulu. Aduh, jangan-jangan kamu memang biasa-biasa saja. Aku saja yang percaya diri menduga kalau kamu ge-er.
Hari ini mungkin kamu sedang malas. Aku juga sedang malas.
Aku malas mengetahui kamu kupikirkan sebelum tidur, apakah kamu masih menonton film kesukaanmu, apakah kamu masih lelah dengan aktivitas sehari-harimu dengan kaosmu yang juga masih belum ganti, apakah kamu hari ini bahagia, dan apakah-apakah yang lain yang berkelebat begitu saja dengan mudahnya. Aku malas karena berdebar begitu melihat ada panggilan masuk darimu. Kau tahu? Kadang tiba-tiba jariku sedikit gemetar. Aku malas mengetahui diriku bersemangat salah tingkah sembari menghidupkan kembali lampu kamarku yang kumatikan sejak tadi. Kemudian diriku tiba-tiba merapikan rambut saat namamu muncul di panggilan video gawaiku. Yang jatuh-jatuhnya aku justru malu karena pipiku belepotan dengan obat bekas jerawat lantaran alergi protein tinggi ini.
Yah, aku malas mengetahui diriku ingin nampak sempurna ketika berhadapan dengan kamu. Aku malas mengakui kalau pagiku begitu jadi semangat dan senyum-senyum seperti orang tak waras membaca ucapan selamat pagi darimu. Aku malas mengetahui bahwa kini ternyata kamu jadi salah satu sumber energi yang tak kasat mata di seberang sana. Ah, kenapa kita jauh sekali. Aku malas menyadari diriku sepertinya memang jatuh hati kepada kamu. Semakin hari.
Sekarang kamu boleh percaya diri. Ini hari di mana salah satu bahagiaku hari ini hadir bertahun-tahun silam di tanggal yang sama. Aku tak mau menyebut tahunnya, sebab kita tahu kita sudah sama-sama kian tua. Aku berlebihan, ya? Ah, itu lah kenapa aku malas dengan diriku kalau sudah seperti ini.
Aku malas mengetahui hal itu. Aku malas mengetahui diriku tersenyum-senyum menulis surat ini kepada kamu. Aku malas mengetahui betapa aku antusias menulisnya. Memikirkan kalimat demi kalimat agar tak ada celah yang aneh.
Aku harap, kamu dilingkupi kebahagiaan. Kalau pun di satu waktu kamu bersedih, kamu juga pasti tahu karena tidak setiap detik kita selalu bersenang-senang. Tetapi hidup itu soal perjuangan, bukan? Yang ikhlas ya, biar Tuhan yang bukakan kemudahan. Kamu ingin doa apa lagi? Berdoalah, biar aku saja yang aminkan.
Berdoalah...
Aku di sini bilang "aamiin", tapi kamu tidak mendengar.
Ah, tuh kan... Aku malas dengan diriku sendiri yang bersemangat mengucapkan selamat ulang tahun dengan begitu spesialnya kepada kamu dengan surat. Selamat ulang tahun, cumi-cumi di ujung jariku.
Jember, 12 Desember 2018
Ya, aku menulisnya kemarin. Kamu membacanya tepat di hari ini.
Kamu tahu hari ini hari apa. Ya, hari kamis seperti biasa. Tidak ada istimewanya memang. Memangnya ada apa? Ya, tidak ada apa-apa. Kamu tidak usah terlalu percaya diri dulu. Aduh, jangan-jangan kamu memang biasa-biasa saja. Aku saja yang percaya diri menduga kalau kamu ge-er.
Hari ini mungkin kamu sedang malas. Aku juga sedang malas.
Aku malas mengetahui kamu kupikirkan sebelum tidur, apakah kamu masih menonton film kesukaanmu, apakah kamu masih lelah dengan aktivitas sehari-harimu dengan kaosmu yang juga masih belum ganti, apakah kamu hari ini bahagia, dan apakah-apakah yang lain yang berkelebat begitu saja dengan mudahnya. Aku malas karena berdebar begitu melihat ada panggilan masuk darimu. Kau tahu? Kadang tiba-tiba jariku sedikit gemetar. Aku malas mengetahui diriku bersemangat salah tingkah sembari menghidupkan kembali lampu kamarku yang kumatikan sejak tadi. Kemudian diriku tiba-tiba merapikan rambut saat namamu muncul di panggilan video gawaiku. Yang jatuh-jatuhnya aku justru malu karena pipiku belepotan dengan obat bekas jerawat lantaran alergi protein tinggi ini.
Yah, aku malas mengetahui diriku ingin nampak sempurna ketika berhadapan dengan kamu. Aku malas mengakui kalau pagiku begitu jadi semangat dan senyum-senyum seperti orang tak waras membaca ucapan selamat pagi darimu. Aku malas mengetahui bahwa kini ternyata kamu jadi salah satu sumber energi yang tak kasat mata di seberang sana. Ah, kenapa kita jauh sekali. Aku malas menyadari diriku sepertinya memang jatuh hati kepada kamu. Semakin hari.
Aku malas, menyadari betapa aku meletakkan kamu di antara kata-kata. Kamu tahu kan, aku mencintai kata-kata. Dan jika aku meletakkanmu di antaranya, kamu tahu apa artinya.
Sekarang kamu boleh percaya diri. Ini hari di mana salah satu bahagiaku hari ini hadir bertahun-tahun silam di tanggal yang sama. Aku tak mau menyebut tahunnya, sebab kita tahu kita sudah sama-sama kian tua. Aku berlebihan, ya? Ah, itu lah kenapa aku malas dengan diriku kalau sudah seperti ini.
Aku malas mengetahui hal itu. Aku malas mengetahui diriku tersenyum-senyum menulis surat ini kepada kamu. Aku malas mengetahui betapa aku antusias menulisnya. Memikirkan kalimat demi kalimat agar tak ada celah yang aneh.
Aku harap, kamu dilingkupi kebahagiaan. Kalau pun di satu waktu kamu bersedih, kamu juga pasti tahu karena tidak setiap detik kita selalu bersenang-senang. Tetapi hidup itu soal perjuangan, bukan? Yang ikhlas ya, biar Tuhan yang bukakan kemudahan. Kamu ingin doa apa lagi? Berdoalah, biar aku saja yang aminkan.
Berdoalah...
Aku di sini bilang "aamiin", tapi kamu tidak mendengar.
Ah, tuh kan... Aku malas dengan diriku sendiri yang bersemangat mengucapkan selamat ulang tahun dengan begitu spesialnya kepada kamu dengan surat. Selamat ulang tahun, cumi-cumi di ujung jariku.
Jember, 12 Desember 2018
Ya, aku menulisnya kemarin. Kamu membacanya tepat di hari ini.



4 Comments
Ehm...?
ReplyDeleteAde postingan ini?
Mo bilang selamat panjang umur tapi takut salah sasaran, mendingan kububuhi tanya saja
???
Siapakah yang berulang tahun kwkwk
ehem... apapun tanggapan kaka guru, saya terima kasih untuk semangatnya hehe *Hormat
DeleteSemoga dia membaca tulisan ini, yang begitu tulus dan 'malu-malu' untuk ditulis, untuk dirinya.
ReplyDeleteAhaaayyyyy ...
#Kepo :D
iya kak tuteh, dia sudah membacanya. dan dia hanya bingung. hadeh hihihi
Delete