[BUKU] Metafora Padma: Konflik-konflik Identitas dan Keberadaan

by - March 12, 2018

Bisa jadi, buku ini menjadi buku pertama di tahun 2018 yang saya selesaikan dengan tuntas. Metafora Padma karya Bernard Batubara. Saya juga membaca buku lain, seperti Ayah-nya Andrea Hirata, Rantau 1 Muara-nya Anwar Fuadi, dan Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps - Pease dan Barbara.

Senja dan Metafora Padma

Begini ulasan subjektif saya, dan demi mencegah kebosanan, saya membaca dari cerita pendek paling belakang. Ternyata cukup manjur.

Solilokui Natalia, sebuah cerita dengan sudut pandang yang tidak biasa, sangat menarik. Membahas tentang agama dan keingintahuan seorang perempuan muslim yang bernama Natalia. Saya suka sekali ini. Di tengah darurat 'agama' yang terjadi di Indonesia, cerita ini seakan menjadi refleksi yang menghadirkan tokoh yang tidak ingin mengkhianati identitas keagamaannya.

Saya membalik halaman secara mundur dan sampai pada Kanibal, sebuah cerita yang mengantarkan saya pada pertanyaan kemana cerita ini akan dibawa. Seakan mengingatkan saya pada latar belakang sang penulis yang menceritakan mengenai menjadi penulis terkenal. Tapi, di bab ini Bara berhasil membawa saya ke imajinasi yang cukup 'psycho' untuk dibayangkan. Metafora tentang seorang penulis yang agaknya mengerikan.

"Dengar, kuberitahu kau satu hal. Sesungguhnya penulis adalah kanibal, memakan dirinya sendiri demi membuat tulisan." Halaman 123

Saya mundur lagi ke halaman dengan judul Suatu Sore. Membaca paragraf awal, dan sontak terkejut dan saya ingin berkata-kata kotor. Kenapa Bara harus menceritakan soal ulat? Membayangkannya saja, kulit terasa gatal.

Sampai pada cerita pendek judul buku, Metafora Padma yang bercerita soal bunga padma dan filosofinya. Di akhir cerita, saya harus mencari apa arti mimpi dari si tokoh dalam cerita ini. Judul cerita ini memang covergenik menurut saya, entah kenapa terasa ada kekhasan yang nyastra menurut saya, elegan didengar. Sebenarnya saya benci dengan tipikal cerita seperti si 'metafora padma' ini, ceritanya ringan, bermakna, tapi membikin saya akhirnya bertanya-tanya. Tapi begitulah cerita terkadang, seperti kehidupan, tidak kita mengerti apa tujuan sebenarnya dari nasib manusia.

Bab menarik lainnya adalah Gelembung. Penulis terasa bereksplorasi dengan sisi introvert. Sebuah kutipan cantik dari cerita ini untuk para pembaca:

Membaca adalah menikmati perasaan di balik setiap kata. Halaman 32

 Ah, saya baru mendengar istilah Demarkasi yang juga merupakan salah satu judul cerita pendek  di buku ini. Kata si tokoh, demarkasi itu garis batas dua kubu yang sedang berperang, antara satu burung dengan burung lainnya ada garis demarkasi yang tidak kelihatan.

Cerita paling akhir yang saya baca yakni sebagai cerita awal di buku ini, Perkenalan. Tokoh yang ingin mengenalkan dirinya melalui medium manusia. Seperti pada kutipan di sampul belakang buku, membicarakan kata kunci identitas.

"Kamu tahu, Harumi sayang, pada zaman ketika kekerasan begitu mudah dilakukan, hal terburuk yang bisa dimiliki seseorang adalah identitas."

Dari cerita-cerita yang ada dalam buku ini, para tokoh mengalami konflik berupa pencarian jati diri, pertanyaan tentang identitasnya, dan kebutuhan akan pengakuan keberadaan tokoh di lingkungannya. Cocok sekali dibaca untuk teman-teman yang punya passion menulis, memiliki karakteritik introvert, dan tentu yang suka membaca. Ah, saya jadi teringat sang penulis sendiri.

Jadi, menurutmu apakah identitas itu sangatlah perlu untuk dikenali diri sendiri? dan orang lain?

You May Also Like

0 comments