Kenapa Membatasi Posting Instagram?

by - February 12, 2018

Ya, memang nggak ada yang tanya, sih. Tapi saya ingin menulis alasan kenapa saya sudah membatasi posting instagram. Bahkan beberapa, eh banyak, postingan saya hapus. Saya pertama kali memakai instagram pada tahun 2014 dan saat itu hanya sekedar punya akun buat gaya-gayaan. Hahaha...

Kronologi instagram


Bahkan dulu sudah sampai lebih dari 350 foto yang sudah saya posting, termasuk video. Yang benar-benar nggak penting sudah saya hapus, apalagi kalau cuma foto selfie, siapa pula yang akan tertarik nontonin foto-foto selfie, semacam nggak ada kegiatan lain saja jadinya, okay kecuali saya orang populer. Wehehe...

Tapi beberapa waktu kemudian, instagram mengeluarkan fitur "archive" yang bisa digunakan untuk membuang foto dari feed (semacam timeline, tampilan foto-foto secara keseluruhan di profil akun kita) instagram kita tanpa harus menghapusnya. Akhirnya beberapa foto ada yang saya arsip juga. Pernah terlintas sedikit kecewa karena yang sebelumnya sudah terlanjur dihapus karena belum kenal fitur arsip ini. Ah, tapi ya sudah lah.

Jadi, kenapa sekarang jadi jarang posting di instagram? Ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan saya. Tentu saja alasan ini tidak saya peroleh begitu saja. Melalui proses berpikir yang cukup lama. Seperti bagaimana saya memutuskan untuk membuat blog dengan rencana menulis apa saja yang kira-kira bisa saya tuliskan di dalamnya supaya tak menjadi amburadul. Sempat mau bikin akun baru, tapi malah eman yang lama. Ya sudah, harus rela buang foto-foto lama yang nggak seberapa pengaruh (halah!) di feed.

MAU KONSISTEN DENGAN TEMA
Dulu sempat bingung soal postingan instagram ini sebenarnya. Duh Gusti, persosmed-an aja bingung. Hahaha... Lha wong saya maunya akun saya itu punya karakter gitu loh. Ada ciri khasnya. Ada niche-nya kalau anak blog bilang.  Nggak sekedar posting momen-momen bahagia tapi campuran, jadi embuh aja gitu rasanya. Kayak nggak bisa dinikmati orang lain. Entah kenapa saya merasa ingin membagi apa yang posting itu tidak hanya untuk diri saya sendiri. Tetapi juga saya berharap orang lain juga bisa menikmatinya, semacam itu lah.

Pada akhirnya, saya menemukan apa yang harus saya bagi pada netizen instagram. Yap, foto-foto perjalanan. Mengikuti jejak blog yang saya rawat, dari blog 'traveran'. Setidaknya, saya tidak akan sembarangan posting foto. Foto lagi umbah-umbah (bahasa Jawa: cuci baju) misalnya, tentu ndak masuk kategori.

MENATA FEED SUPAYA ENAK DILIHAT
Feed yang rapi dan berkarakter tentunya bisa memanjakan mata para pengunjung akun kita, dan menambah peluang untuk difollow. Saya sendiri pantang untuk memohon difollowback, karena saya sendiri berprinsip ya kalau memang mau follow ya atas dasar kemauan dan kesukaanmu sendiri.

Feed yang bagus bisa dari pilihan tema warnanya, entah itu bertema putih, merah, maupun full color. Atau istilahnya 'personal branding' dari akun itu sendiri.

Beberapa teman saya, demi menambah keapikan feed instagramnya, mereka kadang merepost foto-foto dengan warna senada yang diperoleh dari akun pengumpul foto macam pinterest. Buat saya sih sah-sah saja. Tapi kalau bagi saya sendiri jika harus melakukan hal tersebut, saya kurang puas.

"Sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi. Kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanam sendiri."
 
Multatuli

NYEPAM KE FOLLOWER
Sebagian orang beranggapan "Yaelah, medsos medsos gue, suka-suka gue dong mau apload apa aja!"

Memang sih, nggak salah juga kalau mau upload semau elo, tapi kita sebagai followernya nggak salah juga kalau mau unfollow. Hehe...

Selain untuk kenyamanan teman-teman instagram, beberapa orang yang saya kenal sebagai seleb, mereka follow saya sejak follower mereka masih sedikit. Hal itu secara tak langsung berefek juga untuk saya. Bagi saya ada semacam pertanggung-jawaban, saya jadi mikir, ini bagus nggak? Ini penting nggak? Ini nggak ngotor-ngotori beranda kan? Kan bikin ilfil juga kalau ternyata cuma 'nyampah'.

BIAR RAJIN JALAN-JALAN, RAJIN NULIS
Untuk menambah postingan supaya makin niche, tentunya saya harus memperbanyak foto jalan-jalan ke tempat-tempat memorable. Kalau nggak ada foto yang bagus, tahan dulu, nggak usah maksa posting.

Tahan dulu, boss!!

Nah, kalau saya sudah jalan-jalan, saya ada pengalaman, ada cerita, dan ada bahan untuk nulis di blog perjalanan saya.

KEPUASAN DENGAN DIRI SENDIRI
Saat saya sudah melakukan yang terbaik versi saya, ada kepuasan yang datang dari hasil karya yang walaupun kecil. Bukankah begitu?

Saya tidak berharap orang lain akan terinspirasi dengan apa yang saya lakukan, dengan apa yang saya bagikan di media sosial. Tetapi setidaknya menjadi tidak mengganggu itu sudah cukup.

Kalau akun instagram teman-teman bagaimana? Boleh share loh di kolom komentar. 

You May Also Like

6 comments

  1. Kalau aku posting kalau ada foto yang bagus aja. hihi. Tapi memang sih ya, instagram yang punya niche dan feednya bagus itu enak dilihat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap, setuju!
      Iya, tapi kadang kita beranggapan semuanya bagus, kecuali yang ngeblur-ngeblur mending jangan kali, ya. hihih...

      Delete
  2. Sama banget ini kayak aku mbak, entah waktu ngapus-ngapus foto udah ada fitur archive belom. Tapi yaudahlah yah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, iya kan, kayaknya kita sama deh, hapus-hapus sebelumnya itu sebelum ada fitur arsip, lantas baru muncul. hehee

      Delete
  3. Aku malah lagi rajin posting akhir-akhir ini, soalnya stock foto lagi banyak hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Its okay mbak karena mungkin konsen tiap orang manfaatin medsosnya pasti berbeda ya. Hehe
      Happy weekend Mbak!

      Delete