Saat membicarakan keburukan orang, kadang kita bisa menggebu tanpa
ngerem dan berujung keluar semua uneg-uneg kita. Hal negatif yang
melekat pada diri seseorang memang jadi santapan lezat untuk
dibicarakan. Tak heran, “Ghibah ibarat makan bangkai saudara sendiri."
Tidak munafik, saya pun bisa ‘ngerasani’ dengan detil kalau udah nggak
suka dengan sikap seseorang. Entah itu teman, saudara, bahkan orang yang
tak dikenal sekali pun.
![]() |
| vision. pic via pexels |
Saya sendiri lebih suka menjadikan rasan-rasan itu sebagai ajang
menganalisis perilaku seseorang. Biasanya, di akhir pembicaraan atau pun
di sela-selanya saya selipkan hal yang menjadikannya maklum, sesuatu
yang positif, atau penyeimbang.
Beberapa hari lalu saya dan sahabat, curhat dan saling meluapkan
kekesalan. Satu hal yang kami bicarakan saat itu tentang orang yang
mengeluh.
Sahabat saya itu sedang menceritakan kekesalannya soal temannya yang
suka mengeluh. Dikit-dikit mengeluh, padahal beban yang mereka terima ya
sama saja, dan bisa jadi lebih berat yang sahabat saya punya. Tetapi
memang tipikal orang beda-beda.
Ambang batas seseorang terhadap masalah itu beda-beda. Ada yang dimarahi
dikit langsung down. Ada yang disindir dikit langsung marah. Ada yang
dibercandain dikit langsung baper. Karena kembali lagii, kata “dikit”
tafsirannya bisa berbeda-beda bagi tiap orang. Dan tergantung paparan
juga. Ah, banyak faktor sih.
Saya kemudian ngomong, “Kalau dia ngeluh terus ke kamu, hal positifnya
sih, dia percaya sama kamu. Bener-bener nganggep kamu sebagai temen
deket.”
Setelah itu kita jadi membicarakan latar belakang si pengeluh tadi. Dari
yang awalnya curhat, malah jadi diskusi dan sharing yang lebih dalam.
Secara tak langsung kita mencoba memahami sikap seseorang yang
dilatarbelakangi masa silamnya. Kita jadi nggak mudah menjustifikasi
dengan begitu buruk.
Itu yang sering saya lakukan saat membicarakan yang buruk. Teman kost
saya sewaktu SMA dulu pernah bilang, “Kalau mami (panggilan sayang dia)
sedang jengkel dengan seseorang, mami ingat-ingat kebaikannya.” Sampai
saat ini, kata-kata itu selalu saya pegang.
Dan beberapa waktu lalu saya menonton podcast di channel YouTube Deddy
Corbuzier dengan tamu Dzawin Nur, standup comedian sekaligus mamang
yutuber gunung. Dan apa yang dilakukan Dzawin ketika selesai
membicarakan hal negatif, adalah membicarakan positifnya, dan itu
dinamakan netralisir. Dari sini saya tahu bahwa apa yang sudah coba saya
lakukan adalah netralisir.
Netralisir ini bagi saya sendiri efeknya baik. Tidak membuat kita benci
terlalu dalam akan seseorang. Menumpuk benci toh seperti minum racun,
tetapi mengharapkan orang lain yang mati. Tidak mungkin, bukan?
Selalu ada faktor penyebab dari suatu hal. Selalu ada alasan di balik
sikap seseorang, entah ia sadari atau tidak. Tanpa harus mengalami, kita
bisa pelajari dari pengalaman orang.



2 Comments
Oh gitu ya mbak ajeng. Akan saya contoh deh😁. Kalau nggak dinetralisir bencinya bisa menumpuk makin banyak.
ReplyDeleteBahaya buat diri sendiri kan....
Penyakit hati jadinya
Sok dicoba mba anjani hehe
Delete