Hypenya film Joker yang banyak dibicarakan di Twitter jadi membuat saya penasaran juga seperti apa filmnya. Bukan karena lagi hits, tetapi rasa penasaran saya lebih ke topik yang diangkat.
Joker mengangkat isu kesehatan mental. Beberapa review netizen mengatakan kalau film ini dark, sakit, dan bisa mempengaruhi penonton untuk meniru tindakan Joker.
![]() |
| screen capture trailer Joker |
Saya juga ingin menguji apakah saya bisa dipengaruhi juga, atau bisakah saya memandangnya seperti orang-orang yang sudah nonton?
Ditemani seseorang, saya menonton film ini akhirnya. Awalnya berniat nonton sendiri, takut merusak suasana karena saat itu saya sedang PMS. Hehe. Tetapi, saya urungkan, sepertinya menonton bersama bisa lebih menyenangkan karena setelahnya kita bisa berdiskusi.
Saat ini di Indonesia lebih aware dengan isu mental health. Netizen-netizen terutama di platform twitter pun lebih menghargai dan melindungi bagi sesamanya yang mengalami kondisi masalah mental. Saya senang dengan hal itu.
Namun tak memungkiri, masyarakat awam masih banyak menilai kalau kondisi kejiwaan tidak perlu ke psikiater, atau mencari pertolongan dokter jiwa, karena hal itu dirasa memalukan. Anggapan bahwa orang depresi adalah karena kurangnya iman dan ibadah pun masih banyak. Miris dengan hal itu. Padahal, fisik dan psikis adalah komponen yang saling melengkapi dalam kesehatan.
Dalam dunia medis ada yang namanya rentang sehat sakit. Rentang tersebut meliputi unsur sehat secara fisik hingga jiwa. Namun yang dilihat kebanyakan orang, sakit adalah yang nampak secara fisik. Mereka melupakan (atau tidak tahu) bahwa manusia adalah satu kesatuan utuh meliputi jiwa dan raga.
Dalam film, Joker memiliki panggilan Happy dan Arthur Fleck. Happy karena menurut ibunya sepanjang hidup ia terlihat tak pernah sedih. Sebuah refleksi dunia nyata, pura-pura bahagia, padahal hati ambyar.
Arthur yang seorang badut dan senang melihat anak-anak tertawa juga ingin menjadi seorang stand up comedian. Profesi yang amat mulia, menginginkan tawa penonton sementara hidupnya bisa saja menyedihkan. Seperti seorang pelawak Nunung yang belakangan terjerat kasus narkoba. Ia menderita depresi di balik profesinya yang kerap membuat wajah orang berbahagia dan tertawa itu. Hati orang siapa yang tahu, bukan.
Film ini memang cukup kelam. Kebarbaran Arthur yang didasari trauma-trauma masa lalunya, hinaan, penolakan, terkumpul membentuknya kini.
Sebuah pelajaran bagi kita semua, jangan pernah membully orang lain, sebab tidak tahu seberapa menyakitkannya hal itu baginya, dan jika tiba saatnya, ia bisa saja mencari keadilan untuk dirinya sendiri dengan cara yang salah.
Dengan tindakan Arthur yang membalas dendam, dan membunuh itu, tidak lantas kita mengaminkan kalau itu tindakan yang dibenarkan. Tetap itu tindakan yang salah dan kriminal. Tetapi mari mencoba mengerti dari sisi masa lalu dan faktor yang berkontribusi atas terbentuknya kondisi jiwanya saat ini.
Bicara soal adegan, yang paling saya sukai adalah saat Arthur dengan wajah riasan badutnya menari di tangga. Joaquin Phoenix memerankan dengan apik dan penuh penghayatan, seakan ia benar-benar 'sakit'. Mimik wajahnya kadang susah digambarkan, seperti senang dan sedih melebur jadi satu. Bagi saya itu penerjemahan script ke dalam akting yang luar biasa.
Sebelum menonton film ini, saya pernah ngetwit, "Belum nonton Joker. Tapi kalau bicara joker, saya ingat saat main remi/kartu semasa kecil. Kartu joker adalah senjata. Keluar belakangan, biasanya di permainan awal, banyak kalah, tapi kartu joker disimpan dulu. Joker memang harus keluar di saat yang tepat, sebagai pembalasan."
Tetapi anggapan saya salah besar. Joker di film ini berarti "Joke-r". Joke yang memiki makna candaan. Joker adalah ia yang hidupnya ditertawakan. Ah, saya ingin menangis menulis ini. Sebuah kenyataan fiktif yang menyakitkan.
Bagi saya, ini tidak benar-benar dark seperti yang saya ekspektasikan saat membaca review yang sudah nonton. Sebab kadang saya sendiri merasa sakit jiwa menghadapi sesuatu yang di luar kendali. Hahaha. Tertawa dalam kesedihan dalam arti harfiah adalah nyata.
Film ini bagus! Tetapi harus bijak saat dan sesudah menonton. We only have to know, not to follow. Bagaimana, sudah nonton Joker? Apa yang ada di pikiranmu?



2 Comments
Pengen.. Pengen bangey nonton film ini, tapi gimana, bioskop jauh bangetðŸ˜
ReplyDeletePadahal saya suka film dengan tema kesehatan mental gini, dan juga penasaran juga (kayak mbk ajeng), apa saya juga bisa terpengaruh kayak orang lain yang udah nonton....
wah berarti belom sempet nonton ya mbak, sayang sekali. apa boleh buat kalau bioskop jauh,. :')
Delete