[CERITA] Gadis Kecil, Belimbing, dan Kejujuran di Iduladha

by - August 22, 2018

Pagi ini setelah melaksanakan shalat Ied dan bersalam-salaman dengan jamaah yang lain, seorang anak kecil perempuan menghampiri saya. Dia tetangga dekat rumah, seorang anak piatu yang masih usia sekolah dasar.

hanya ilustrasi belaka via dailyforest


"Mbak, aku kemarin minta belimbing," ujarnya dengan masih mengenakan mukena.

Saya sedikit nggak ngeh maksudnya gimana dan saya tegas tanyakan kembali, "Belimbing?"

"Iya, belimbing yang di belakang rumah Mbak Ajeng. Aku kemarin mengambil bareng Anti (temannya, yang juga tetangga saya)."

Lalu saya tersenyum dan berkata, "Oh, belimbing itu, iya nggak apa-apa."

Kemudian iya mengucapkan maaf dan terima kasih. Saya melihat raut wajah sederhana itu tersenyum lega. Sejenak kemudian ia berlalu.

Sebuah percakapan singkat, tetapi menghangatkan hati saya di pagi Iduladha ini. Sebuah kejujuran dari seorang anak perempuan. Sebuah keberanian untuk mengakui apa yang pernah ia lakukan. Tidak ada alasan saya untuk menasihati bahkan marah. Saya melihat bahwa ia sudah melalui proses pikir dan memutuskan untuk mengatakannya pada saya.

Kita semua tahu, kejujuran sekarang ini bisa menjadi barang langka. Mari kita hargai kejujuran agar tak punah. 

Lagi pula, belimbing di belakang rumah itu memang tidak pernah saya rawat, tetapi memang tumbuh dan berbuah sebagai bagian dari tumbuhan di pekarangan rumah saya.

Saya membayangkan, mungkin ada kelegaan yang menjalar seketika di hati anak tersebut. Begitu pula saya, ada sepercik bahagia menyaksikan tumbuh kembang seorang anak kecil perempuan. Dan barangkali ini adalah bagian dari berkah Iduladha untuk hari-hari kami.

Selamat Iduladha untuk sahabat-sahabat sekalian, semoga berkah selalu menaungi, dan keikhlasan berbagi penjadi pengiring langkah kita. Ceritakan padaku, adakah yang membuatmu bahagia di hari Iduladha ini? 

You May Also Like

27 comments

  1. Luar biasa..mungkin bagi sang anak meski cuma hanya belimbing tetapi jika bukan miliknya tetap tidak baik bila mengambilnya tanpa seizin pemilik..😄😄

    Yaa Mungkin dengan adanya kejujuran dari seorang anak kecil mbak ajeng diharuskan untuk merawat pohon tersebut siapa tahu suatu saat buah itu bermanfaat bagi mbak ajeng sendiri dan orang banyak..😄😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Kak Satria. Alhamdulillah anak tersebut sudah mampu menentukan keputusan yang baik. Nah, itu dia, barangkali saya sedang diingatkan untuk merawat pohon belimbing saya, ya. Baru terpikir soal ini. Makasih Kak Satria. 😅

      Delete
  2. Selamat Merayakan Hari Raya Idul Adha Inlektual muda, semoga hari ini selalu membawa berkat seperti yang diceritakan di atas. Anak kecil yang sportif dan "rela" mengatakan hal yang sepertinya telah menjadi barang langkah di negeri ini.

    Jujur de saya merasa anak itu suatu saat (jika rohaninya terus dijaga) dia akan menjadi berkat dan harapan Indonesia dan keluarganya. Ya mungkin dia tidak seperti anak Timor yang manjat tiang bendera dan ketemu pak presiden tetapi caranya jujur inspirasi sekali. Sebagai guru saya merasa sangat tersentuh dengan pengakuan jujur bocah itu. Kudoakan semoga masa depannya selalu diberkati.

    Dari kisah ini dan tanyangan TV tentang anak Timor yang memanjat tiang bendera saya sadar ternyata masih ada generasi penerus yang takut akan Tuhan.

    Semoga mentalitas mereka (si bocah belimbing dan anak tiang bendera). Terus dibina agar hadir menjadi pemimpin besar di masa depan.

    Mbak Ajeng pun sudah melakukan hal yang benar. Tanpa amarah, tanpa teriakan, tanpa kebun binatang tetapi hadirkan bahagia dan nyaman pada jiwa remaja putri itu. Sinerginya antara dua generasi. Semoga negeri ini terus berdaya dan memikat dengan hadirnya orang-orang baik lagi sportif seperti kisah Gadis Kecil, Belimbing, dan Kejujuran di Iduladha. #inspiratif

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ucapannya, Kaka Guru Martin. Aamiin...

      Baik Kaka, kita doakan untuk mereka yang punya nyali tersebut sukses dan membanggakan di masa depan. Saya juga terharu melihat Joni si pemanjat tiang. Mungkin 'kecelakaan gagalnya pengikatan tali ke bendera' itu adalah jalan rizki bagi Joni. Sudah sekenario Tuhan barangkali, ya Kaka.

      Terima kasih atensi, harapan, dan doa dari Kaka Guru.

      Delete
  3. selamat idul adha pula..
    dan kejujuran pula lah yang membedakan mana manusia dan bukan manusia..!

    ReplyDelete
  4. Jujur memang salah satu sifat dari Rasullah yang hrus di tauladani oleh ummat manusia.

    Selamat idul adha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Kak. Salah satu sifat beliau, siddiq.

      Terima kasih Kak

      Delete
  5. Selamat Idul Adha ya kak Ajeng :)
    Kalo kata temen-temenku, negeri ini tidak kekurangan orang pinta. Negeri ini kekurangan orang jujur, ehehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesan moral sekali ya Kak Fajar. Heheh... Seperti di sekolah, yang pintar banyak, tapi yang kalau ujian jujur? Hmm

      Delete
  6. Betapa kejujuran ini sangat penting ya, Mbak. Inilah karakter dasar bagi manusia bila ingin dipercaya keluarga, saudara, tetangga, sahabat, atau siapa pun juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup Mas Muhaimin. Kadang yang banyak nggak jujurnya ini yang dewasa. Huhu

      Delete
  7. Aku ikutan adem bacanya mbak.. Emg skrg kejujuran langka bgt, susah ditemui

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah jadi ikutan ayem, Mbak Ella :)

      Delete
  8. idul adha? wah lama sakali peristiiwanya. Emang seharusnya hal seperti itu menjadi penting. Sebab apa yang kita makan akan mempengaruhi perilaku kita. Hal halal pastinya, walau buah itu jatuh tetaplah harus minta permisi dan minta ijin. Walau secara hukum mungkin tidak jadi soal.
    itulah hebatnya kehati-hatian. Ada lo, orang seperti itu dikampung saya.
    Tapi sayang sekali saya tidak bisa menirukannya. ah kalau sudah jatuh berarti halal dan main sikat saja hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi buah yang masih dipohon.

      Delete
    2. Iya Mas Djangkaru, lha wong nulisnya pas iduladha, ah ada ada saja. Hahaha. Yap betul, kebanyakan kita langsung sikat. Palagi kalau musim mangga, orang orang bangun pagi untuk bisa nemu mangga jatuh milik tetangga.

      Delete
  9. Kejujuran memang kebaikan yang langka ya, sayangnya kalau hewan ato tumbuhan langka bisa dijaga bersama kalau kejujuran hanya diri sendiri yang bisa menjaga...
    Salam jujur...😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Kak Anjani. Mari kita terapkan mulai dari diri kita sendiri. Salam 😊

      Delete
  10. kejujuran di era zaman now rasanya mahal yaa ... ahlak dan budi pekerti yg baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, Kak Riza. Harus dilestarikan. :D

      Delete
  11. Kadangkala kejujuran dianggap sebuah masalah.
    Apakah jamannya udh berubah ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Mas Aris. Yang jujur kadang malah dapat masalah, dapat marah, dan akhirnya ornag jadi enggan untuk jujur.

      Delete
    2. Semoga kejujuran gadis kecil itu bisa menjadi teladan bagi kita semua...

      Delete