[REF] Menghindari atau Menghadapi?

by - May 20, 2018


Beberapa hari yang lalu, teman saya, Wati, sedang mengendarai motor bersama seorang kawan. Mereka boncengan. Lebih tepatnya, Wati mau mengantar kawannya pulang.

Saat melewati jalanan siang hari yang bertepatan dengan jam-jam pulang sekolah, jalanan menjadi cukup macet dan kendaraan bergerak pelan. Saat ada celah, Wati membelok ke kiri melewati jalan lain yang ia kira tidak akan macet sehingga walaupun jarak tempuhnya lebih jauh, ia bisa sampai lebih cepat. Setidaknya nggak berpanas-panasan.

Namun sayang, Wati justru menemui adanya perbaikan jalan dan tetap saja jalanan macet. Dalam hati, Wati merenung-renung dan mendapat sebuah kesimpulan singkat:

Bagaimana pun kita mencoba menghindari sebuah masalah, kita akan tetap dihadapkan dengan masalah yang lain, yang bahkan sama saja.

Sama seperti cerita Wati beberapa minggu sebelumnya. Wati memiliki Surat Ijin Mengemudi (motor), tetapi ia lupa memperpanjang masa berlakunya. Karena peraturan saat ini mengharuskan ujian dari awal bagi yang terlambat memperpanjang, ikutlah ia ujian teori maupun praktik. Wati tak ingin mengeluh karena ia pikir akan jadi seru.

Ujian untuk mendapat SIM tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan. Loh, bukannya dulu ia sudah pernah memiliki SIM? Iya, tapi hasil 'nembak'.


     style="display:block"
     data-ad-format="fluid"
     data-ad-layout-key="-cb+12+d-1jd+2fv"
     data-ad-client="ca-pub-9701808474177901"
     data-ad-slot="8246589716">



Nah, setelah lolos ujian teori, Wati ujian praktik mengendara motornya tersebut. Hari pertama, gagal. Ia harus mengulang di hari yang sama, minggu depan. Di Minggu kedua, Wati tetap gagal. Minggu ketiga, Wati mencoba datang lebih pagi supaya bisa latihan di lapangan ujian. Tapi tetap hari itu hasilnya nihil. Tanpa harus bersedih hati, Wati latihan lagi di minggu keempat. Berharap ini adalah ujian yang terakhir untuknya.

Setelah tiba gilirannya dipanggil, Wati menyiapkan motornya dan melajukannya saat aba-aba dimulai. Dengan mulus ia melewati lintasan lurus, tikungan, berkelok depanan, hingga lintasan zig-zag. Tidak terasa ujian selesai dan ia dinyatakan LULUS!

Antara lemas dan puas menjadi satu. Puas dengan hasil yang ia lewati dan usahakan dengan pantang menyerah, setelah berminggu-minggu berusaha, Wati mendapat lisensinya. Dari pengalaman Wati, kita bisa ambil pelajaran, bahwa:

Semesta itu adil. Kita akan melewati apa yang belum kita lewati. Kita akan merasakan apa yang seharusnya kita rasakan. 

Jadi, hindari atau hadapi?

Keduanya adalah pilihan. Keduanya akan sama-sama memberi pengalaman dan pelajaran. Tapi, bagaimana kalau: "mari jalani apa yang harus kita hadapi."?

You May Also Like

10 comments

  1. Toh kalau dihindari juga pasti akan menghadapi hal lain. Benar kan ka? Saya juga pernah mengalami hehe. Menghindari macet malah tersesat :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yipi, benar sekali. Hehe sabar ya, kadang perkiraan kita malah salah. Maunya ngehindari macet, eh lewat jalan lain ada aja halangannya. Secara sederhana, waktu adakalanya bekerjasama dengan takdir. Hehe

      Delete
  2. Aku suka banget dengan quotenya :

    Semesta itu Adil.Kita akan melewati apa yang belum kita lewati.Kita akan merasakan apa yang seharusnya kita rasakan.

    Betul, semua ada waktunya,kak.
    Seperti tokoh Wati ini ( jangan-jangan ini sosok kak Ajeng sendiri sebenarnya .. xixixi 😁 ) ... akhirnya setelah beberapakali test, sukses dapetin SIM juga.

    Kayak aku.
    Hahahahahaha 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap! Yang penting jangan lelah berbuat baik, karena kalau tidak itu artinya kita sedang meremehkan kerja semesta. Ehehe begitu, bukan?

      Selamat siang, saya Wati. :D

      Delete
    2. Ya,kak .. jangan lelah berbuat kebaikan.
      Meski kadang belum tentu, kebaikan yang kita berikan ke seseorang akan dibalas dengan kebaikan pula.
      Aku pernah ngalamin soalnya 🤗
      Tapi ngga apa-apa.

      Eh, beneran nih tokoh Wati adalah kak Ajeng 😁 ?.
      Cerita artikelnya mengalir, enak dinikmati.

      Kak Ajeng, silahkan berkunjung di blognya Karakabu. Com, ada surprise disana 😉

      Delete
    3. Nah, pengalaman memang pelajaran paling berharga ya mas. Hehe

      Loh iya kah? Baiklah meluncur sebentar lagi. Lagi nggak cekincekin blog memang. 😅 makasih mas.

      Delete
  3. wah reflektif bangat ne intlektual muda. "Semesta itu adil. Kita akan melewati apa yang belum kita lewati. Kita akan merasakan apa yang seharusnya kita rasakan". Mencernah pernyataan ini menurut saya tidak membutuhkan pemahaman tentang ilmu filsafat tetapi kerendahan hati untuk memaknai hidup dengan segudang persoalannya. Kagum dengan kontruksi berpikirnya intlektual muda. Sukses selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, kaka Guru ini bisa saja. Yap, kita hanya butuh kerendahan hati untuk menyadari bagaimana alam bertindak sebagai cermin terhadap perbuatan kita. Mungkin begitu kali, ya. Hehe

      Delete