Friday, August 03, 2018

[BUKU] Melihat Tabiat Pandawa dari Perspektif Drupadi

Ternyata kesetaraan gender tidak hanya diperjuangkan pada masa kini terutama oleh aktivis-aktivis feminis kesetaraan gender, tetapi juga diperjuangkan oleh seorang perempuan cantik dan jelita bernama Drupadi, perempuan poliandris.

SAMPUL BELAKANG
Apalah artinya Pandawa tanpa Drupadi?

Dewi Drupadi tidak menyukai suratan. Kehidupan manusia tidak ada artinya tanpa perjuangan. Jika segalanya telah menjadi suratan, apakah yang masih menarik dalam hidup yang berkepanjangan? Apakah usaha manusia tidak ada artinya? Apakah semuanya memang sudah ditentukan oleh dewa-dewa? seperti ia yang menjadi istri dari 5 Ksatria Pandawa?

Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu.

Drupadi - Seno Gumira Ajidarma

Bagi engkau yang tak mengenal Drupadi, mari berkenalan dahulu. Drupadi adalah tokoh pewayangan, seorang putri yang bersuamikan lima bersaudara yang dikenal Pandawa Lima. Dia diperistri karena salah satu dari Pandawa tersebut memenangkan sayembara yang dilaksanakan oleh Drupada, Ayah Drupadi raja dari kerajaan Pancala.

Namun karena salah satu dari mereka yang memenangkan sayembara tersebut tidak mau menikahinya jika saudara yang lain juga tidak menikah maka jalan keluar yang diberikan oleh Dewi Kunti, ibu Pandawa adalah dengan menikahi ke lima bersaudara tersebut. Drupadi pun patuh.

Novel ini mengambil bagian dari cerita Mahabharata (cerita tentang konflik antara Pandawa dan saudara sepupu mereka, Kurawa yang jumlahnya 100 bersaudara dalam memperebutkan kerajaan Hastina), yaitu kisah Drupadi sebagai perempuan poliandris sebagai pokok cerita tentang bagaimana seorang perempuan harus mengabdi pada suaminya, tabah dalam penderitaan, juga memperjuangkan haknya untuk terbebas dari rasa hina.

Ya, tentu Drupadi terhadap kelima suaminya harus berlaku adil. Ia juga setia, dalam keadaan pengembaraan pun selalu turut serta. Ia mengabdikan hidupnya untuk mereka.

Di buku ini, ada 1 bab yang tidak terlalu berkaitan dengan bab sebelum dan sesudahnya dalam hal ini, tidak secara langsung berhubungan dengan penderitaan-penderitaan hidup Drupadi, tetapi sangat bagus sebagai intermeso cerita keseluruhan, yakni tentang Kausika. Kausika adalah seorang Resi (orang suci), ia beranggapan bahwa dirinya adalah orang yang patut ditinggikan, sebab ia berbicara tentang kebajikan dan keadilan di masyarakat. Seperti Buddha Gautama, ia mencari makna kehidupan dari guru satu ke guru lainnya, juga mendapat makan dari belas kasih penduduk. Ia menginginkan suatu pencerahan, namun pada suatu ketika saat amarahnya terpancing, ia bertemu utusan dewa dan harus menemui orang yang bisa menjadi gurunya selanjutnya, dan tak disangka-sangka guru yang ia temui kemudian. Siapa kah ia?

Drupadi menjadi korban keserakahan, kekerasan, yang lantas ia perjuangkan. Pandawa sebagai tokoh "baik" pun justru berbalik dalam buku ini. Pandawa seakan dimunculkan tabiat buruk manusiawinya: serakah, mengorbankan kekasihnya, dan tak mampu membela, padahal mereka adalah ksatria. Karena cerita di buku ini seakan mengambil perspektif sosok wanita maka terasa sekali bahwa pembaca diajak melihat kekurangajaran Pandawa dan merasakan liku pahitnya kehidupan Drupadi yang lebih dari kepahitan yang dialami manusia tanpa kasta, terhina, terlunta-lunta, terusir, ditinggalkan, marah, dan sebagainya.

Ada sebuah kutipan yang muncul ketika Yudistira (sulung Pandawa) melawan Sengkuni (pamannya) dalam sebuah meja judi yang pada akhirnya mempertaruhkan segalanya:

"Apalah artinya kalah dan menang karena jika ini memang permainan nasib kita sudah menang kalau sudah berani bermain-main dengan nasib." hal 45

Jika kita resapi mungkin bisa jadi sebuah kemenangan adalah memenangkan diri kita sendiri. Tentu banyak sekali pesan-pesan dalam buku ini yang dikemas ke dalam kalimat-kalimat arif. Namun pada akhirnya ada pula halaman yang seakan menjadi lawan dari pernyataan kemenangan nasib di atas:

"Ingatlah, Drupadi. Bukan hanya dikau seorang yang menderita. Tak ada yang menang dalam peperangan. Tak akan pernah ada... " Hal 121

Buku ini dilengkapi ilustrasi yang meminimalisir rasa bosan pembaca. Sampul berwarna ungu dengan sedikit mengkilap juga terasa pas untuk menggambarkan wanita. Namun untuk ilustrasi wajah Drupadi yang terpampang lumayan besar di sampul depan rasanya agak sedikit menyeramkan, tetapi mungkin itulah yang sedang coba disampaikan di buku ini. Bahwa pusat cerita di novel sastra ini adalah Drupadi.

DATA BUKU
Judul Buku: Drupadi - Perempuan Poliandris
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Ilustrasi: Danarto
Tebal: cover + vi + 149 halaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Tahun Terbit: 2017
ISBN: 978-602-03-3687-9

Sekian review buku ini. Sudah pernah baca atau mendengar kisahnya? Nah, bicara soal kemenangan dalam hidup seperti yang dibicarakan di novel tersebut, apa makna kemenangan menurut teman-teman? 

Artikel Terkait

11 comments

Bicara tentang Drupadi secara keseluruhan saya maknai 3 hal (sepertinya semuanya negatif heheh).

Pertama manusia bermental kodok, sikut kiri sikut kanan, jilat pimpinan, sosok ada pada tokoh yang disebut Sangkuni (Koreksi kalau salah penyebutan nama tokoh dan deskrips karakternya).

Kedua manusia yang tidak memiliki prinsip dan pegangan hidup, yaitu sosok lima jagoan itu (Pandawa). Orang bisa idealisme kalau perut kenyang, ntar idealismenya runtuh jika dihadapankan dengan rupiah hahah mahasiswa zaman now, sebuah persepsi, maaf jika tak seiring.

ketiga menghargai wanita artinya menghargai hidup itu sendiri, tak ingin jelaskan jelaskan point ini ntar dikira ustad atau pendeta lagi heheh..

Hallo inlektual muda bagimana tesisnya, ayolah...

Halo, Kak Guru Kabu!

Persepsi yang menarik. Terima kasih sudah menghadirkan sudut pandang. Hehe. Maksudnya berbicara tentang beberapa tokohnya begitu, Kak? Tapi tidak bersebelahan kok, Kak, persepsinya saya rasa. Sifat yang Kakak gambarkan juga soal Sengkuni dan Pandawa tersebut kurang lebihnya mirip dengan di buku, karena memang mengambil kenegatifan tokoh di luar sosok Drupadi sendiri.

Haha, on proses Kakak.

Siap 86 inlektual muda. Indonesia (Terutama kami di Indonesia paling timur) membutuhkan manusia muda yang visioner dan mau melayani seperti saudariku Ajeng yang ramah ini. #ayoketimur #ayomembangun #mariberkarya. Salam damai.

Bagus bukunya untuk menemani kita bersantai, untuk menambah khasanah pengetahuan baru.

Aih, kaya acara TV, siap 86! Saya anggap hal tersebut sebagai doa, Kak. Semoga bisa berbagi yang terbaik. Aamiin... #ayoketimur.
Salam damai selalu Kak Guru Martin!

Benar, Alek Sander. Apalagi ditemani kopi dan sore hari. Hehe

Pernah nonton filmnya doang , Drupadi dgn lima suaminya, padahal yg dicintainya ntag lah yang mana.

Serakah bngat dah 🤣😂😁

Wuetss... Yah namanya juga versi felm sama buku pasti beda, palagi sudut pandang yang baca/nonton. Hahaha

Yang menarik dan bikin penasaran dari buku ini menurutku ..., tokoh Pandawa Lima yang ditonjolkan jadi beperingai tak seperti biasanya yang digambarkan selalu baik.

Segera ku noted buku ini untuk kubeli.

Benar Mas, kita seakan diajak menonton sifat manusiawi para pandawa, sebagaimana manusia, tak ada yang seratus persen baik. Hehe

Selamat membaca juga Mas!


EmoticonEmoticon