Menghindari atau Menghadapi?


Beberapa hari yang lalu, teman saya, Wati, sedang mengendarai motor bersama seorang kawan. Mereka boncengan. Lebih tepatnya, Wati mau mengantar kawannya pulang.

Saat melewati jalanan siang hari yang bertepatan dengan jam-jam pulang sekolah, jalanan menjadi cukup macet dan kendaraan bergerak pelan. Saat ada celah, Wati membelok ke kiri melewati jalan lain yang ia kira tidak akan macet sehingga walaupun jarak tempuhnya lebih jauh, ia bisa sampai lebih cepat. Setidaknya nggak berpanas-panasan.

Namun sayang, Wati justru menemui adanya perbaikan jalan dan tetap saja jalanan macet. Dalam hati, Wati merenung-renung dan mendapat sebuah kesimpulan singkat:

Bagaimana pun kita mencoba menghindari sebuah masalah, kita akan tetap dihadapkan dengan masalah yang lain, yang bahkan sama saja.

Sama seperti cerita Wati beberapa minggu sebelumnya. Wati memiliki Surat Ijin Mengemudi (motor), tetapi ia lupa memperpanjang masa berlakunya. Karena peraturan saat ini mengharuskan ujian dari awal bagi yang terlambat memperpanjang, ikutlah ia ujian teori maupun praktik. Wati tak ingin mengeluh karena ia pikir akan jadi seru.

Ujian untuk mendapat SIM tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan. Loh, bukannya dulu ia sudah pernah memiliki SIM? Iya, tapi hasil 'nembak'.


     style="display:block"
     data-ad-format="fluid"
     data-ad-layout-key="-cb+12+d-1jd+2fv"
     data-ad-client="ca-pub-9701808474177901"
     data-ad-slot="8246589716">



Nah, setelah lolos ujian teori, Wati ujian praktik mengendara motornya tersebut. Hari pertama, gagal. Ia harus mengulang di hari yang sama, minggu depan. Di Minggu kedua, Wati tetap gagal. Minggu ketiga, Wati mencoba datang lebih pagi supaya bisa latihan di lapangan ujian. Tapi tetap hari itu hasilnya nihil. Tanpa harus bersedih hati, Wati latihan lagi di minggu keempat. Berharap ini adalah ujian yang terakhir untuknya.

Setelah tiba gilirannya dipanggil, Wati menyiapkan motornya dan melajukannya saat aba-aba dimulai. Dengan mulus ia melewati lintasan lurus, tikungan, berkelok depanan, hingga lintasan zig-zag. Tidak terasa ujian selesai dan ia dinyatakan LULUS!

Antara lemas dan puas menjadi satu. Puas dengan hasil yang ia lewati dan usahakan dengan pantang menyerah, setelah berminggu-minggu berusaha, Wati mendapat lisensinya. Dari pengalaman Wati, kita bisa ambil pelajaran, bahwa:

Semesta itu adil. Kita akan melewati apa yang belum kita lewati. Kita akan merasakan apa yang seharusnya kita rasakan. 

Jadi, hindari atau hadapi?

Keduanya adalah pilihan. Keduanya akan sama-sama memberi pengalaman dan pelajaran. Tapi, bagaimana kalau: "mari jalani apa yang harus kita hadapi."?

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Belanja Krisan di Kebun Bunga Rembangan, Bisa Pilih dan Cabut Sendiri

[Film] AADC 2, Sebuah Pertanyaan Tentang Cinta

Libur Lebaran ke Payangan, Kini Ramai dengan Bukit-bukit Pandang