Negative Thinking? Why Not

by - April 02, 2018

Pernahkah kau berhadapan pada suatu masalah yang menekanmu habis-habisan untuk berpikir? Apa yang sebenarnya terjadi?

Ya, kita semua pernah.

blog.bible/bible-blog/entry/3-prayers-for-when-you-cant-stop-worrying
on the top of that, im still worrying anything, everything.
Image by bibleblog

Saya ingin menceritakan sesuatu...

Ketika saya masih berkuliah di keperawatan, tentu terbiasa dengan adanya ujian praktik klinik. Ujian tersebut berupa tindakan-tindakan klinik saat kita menghadapi pasien dengan segala kondisinya. Biasanya ketika saya berpikir buruk (Misal: takut tidak bisa, jantung berdebar-debar, susah mengingat SOP, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan lainnya sebelum ujian) biasanya justru saya mendapati ujian yang lancar dan tak semenakutkan bayangan saya. Mungkin apakah karena mental saya sudah mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan buruk? 

Justru saya sedikit khawatir ketika menjelang ujian, tetapi saya nampak santai, tidak kepikiran, dan justru merasa sudah siap. Kadang berakhir kebalikannya.

Itu salah satu kejadian yang membuat saya berpikir bahwa tak ada salahnya bernegative thinking. Tentu banyak kejadian dalam kehidupan kita sehari-hari yang membuat kita lelah dan berpikir terlena hingga mengesampingkan kemanfaatan bagi diri kita pribadi.

Dari beberapa teman yang berpendapat lewat jalur pribadi kepada saya:
"Saat berprasangka buruk, kita siap dengan hasil yang buruk dan tetap senang dengan hasil baik. Tapi kalau prasangka baik dan mendapat hasil baik ya sama saja senangnya, tapi kalau mendapat hasil buruk, rasanya jadi babak belur." Siska Noviyanti 
"Mikir positif, sisanya serahkan kepada yang menulis takdir. Mikir negatif juga, tapi malah tambah pusing. Jadilah dirimu sendiri dan libatkan Tuhanmu." Febriana Putri 
"Positif thinking dulu, lebih menenangkan hati. Kalau aku, kembalikan lagi mindsetku bahwa sudah Allah yang mengatur." Alifia Rizqi
"It just like a mirror, you got what you thought." Zainur Ridla

Tapi terkadang... Bagi saya, lebih baik berprasangka buruk atau berpikiran negatif terlebih dahulu.

Ya, saya lebih memilih berprasangka buruk karena kenyataannya bisa jadi tidak seburuk dan semenakutkan yang saya pikirkan. Justru jika saya berprasangka baik, saya takut bila kenyataannya nanti jadi menyakitkan. Tetapi, keduanya tidaklah menyenangkan. Keduanya sama-sama melelahkan.

Berprasangka buruk akan menekan pikiran, bertanya kenapa dan bagaimana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang belum terjawab. Tentu saja itu melelahkan. Memangkas habis kedamaian saya bahkan pada saat belum tahu kenyataannya bagaimana.

Berprasangka baik pun bisa jadi melelahkan. Jika apa yang kita harap-harap positif, berpikir yang baik-baik namun pada kenyataannya tidak seperti itu. Semacam menemui kekecewaan karena memiliki harapan yang sedemikian rupa sudah kita susun dalam pikiran kita.

Namanya juga "terkadang...", artinya tidak selalu. Untuk beberapa kondisi, berpikiran negatif justru membantu saya menyusun rencana solusi jika sesuatu hal buruk akan benar-benar terjadi. Tergantung kita bagaimana memanfaatkan pikiran-pikiran tersebut.

But, be careful, when the first time I searched on google what is the negative thinking about, and found this one in the first line...
Negative thinking is a survival strategy that causes us to look for what is wrong so that we can protect ourselves against danger, but it is a very bad strategy because our thoughts actually create reality. (Wake Up World)
See?

Somehow it is okay, but somehow it's not. Happy weekdays!

Kalau menurutmu bagaimana? Silakan tinggalkan pendapatmu di kolom komentar. Berbeda pendapat bukan berarti musuh, kan? Hehehe...


Salam

You May Also Like

4 comments

  1. Menurutku,kak ...
    Antara pikiran negatif dan pikiran positif harus seimbang.
    Kalo terlalu negatif thinking juga akan menghambat kreatifitas/keinginan kita, tapi kalo over positive thinking juga kurang baik ...
    Karena apa ?, takutnya jadi mengalami kekecewaan berat karena apa yang diharapkan ngga terlaksana dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mas Himawan!

      Yak, keduanya punya andil di waktu-waktu tertentu. Setuju banget itu soal mengalami kekecewaan yang berat. Memang segala yang berlebihan itu nggak baik ya, Mas.

      Terima kasih sudah mampir.

      Delete
    2. Saya setuju dengan pernyataan mas Himawan di atas. Tetapi kalau soal penerapannya saya seperti ini.

      Tergantung situasi dan dengan siapa yang kita hadapi. Jika kasusnya adalah seorang anak takut karena tidak bisa mengerjakan soal matematika di depan kelas maka pikiran postiflah yang diutamakan karena hemat saya pikiran positif bisa mempengaruhi mental seseorang. Namun apabila pergi ke kuburan dalam suasana gelap (misalnya) pikiran positif dan negatif layak untuk diseimbangkan (penjelsannya idem dengan Mas Himawan).

      Jadi kesimpulannya menurut saya tergantung situasi dan dengan siapa kita hadapi. Nice post. Hadirkan diskusi yang menarik.

      Delete
    3. Ya, Kak. Untuk seorang anak/siswa akan terasa lebih baik jika menerapkan berpikir positif, yang nantinya akan menumbuhkan optimismenya juga.

      "Apa dan Siapa", ya kesimpulannya. Terima kasih sudah mengisi diskusi ini, Kaka Guru.

      Delete