Inspirasi Gila Ilmu dari Ranah 3 Warna

by - Sunday, November 19, 2017

Ranah 3 warna adalah novel kedua dari Trilogi 5 Menara karya A. Fuadi. Novel pertamanya, Negeri 5 Menara yang saya baca hampir 7 tahun yang lalu. Ya, tujuh tahun yang lalu. Dan telah diangkat ke layar lebar pula. Baru tahun 2017 ini saya membaca lanjutannya.

Awalnya saat saya ingin membeli di salah satu toko buku, saya kurang sreg dengan sampul bukunya. Sampul buku terbaru berupa huruf dengan latar polos. Entah kenapa saya lebih suka dengan edisi terdahulu. Tetapi beruntung saya mampir ke toko buku lain dan menemukan sebuah novel dengan sampul bergambar sepatu hitam, rumput hijau, pasir, dan daun maple yang didesain oleh Slamet Mangindaan ini. Ya, Ranah 3 Warna edisi sampul lama.

Ranah 3 Warna sampul edisi lama

Sekilas Sinopsis

Alif baru saja tamat dari Pondok Madani. Impiannya adalah ingin belajar teknologi tinggi di Bandung seperti Habibie, lalu merantau ke Amerika. Tetapi ia kemudian sadar, satu hal penting yang tidak ia punya, ijazah SMA.  Bagaimana mungkin mengejar semua cita-cita tinggi tersebut tanpa ijazah?

Ranah 3 Warna adalah hikayat tentang bagaimana impian tetap wajib dibela habis-habisan walau hidup digelung nestapa tak berkesudahan. Tuhan sungguh bersama orang-orang yang sabar.

Mantra-mantra Sakti

Semenjak bukunya yang pertama, A. Fuadi selalu membawa satu mantra sakti untuk disebarkan pada pembaca. Di novel pertamanya, Negeri 5 Menara, mantra Man Jadda Wajada, menjadi fokus yang harus dipegang oleh para tokoh dalam menggapai impiannya.

Rupanya di buku kedua ini, mantra man jadda wajada tidak cukup sakti. Penulis membawakan mantra kedua dari pelajaran di Pondok Madani (Pondok pesantren tempat penulis menimba ilmu) dulu: man shabara zhafira, siapa yang bersabar ia akan beruntung.

Di buku ketiganya nanti, yang akan segera saya baca tentunya, pastilah ada mantra lebih sakti lainnya.

PEPATAH ARAB DARI PONDOK MADANI

I'malu fauqa wa 'amilu

Untuk mencapai cita-citanya, Alif, si tokoh utama dalam novel ini harus berusaha mengejar ketertinggalan, dengan belajar menggunakan cara berusaha di atas rata-rata orang lain.

Man yazra' yahsud

Siapa yang menanam akan menuai yang ditanam. Motivasi dari Pondok Madani tersebut menjadikan Alif terus berusaha meskipun diremehkan siapapun.

Sahirul lail

Bekerja sampai jauh malam. Alif dengan keterbatasannya yang tidak memiliki komputer, harus berusaha hingga larut malam menyelesaikan tugasnya dan meminjam komputer kawannya saat tak terpakai.

... Dan banyak lagi kata-kata motivasi semangat untuk menggapai keinginan di buku ini.

Novel ini recommended sekali untuk pelajar-pelajar yang tengah berjuang ingin lulus, mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, dan siapapun yang tengah menghadapi masa-masa sulit dan kacau dalam hidupnya.

"bahwa sedekah terbaik itu dilakukan di kala kesusahan, bukan di kala senang saja" halaman 156

Kekacauan hidup Alif dari soal sekolahnya, persahabatannya dengan Randai, hingga soal keluarganya, membuat tokoh mengalami perkembangan karakter yang manusiawi. Ada kalanya egois, ada kala meratapi terlalu lama, bahkan sekelas manusia penuh ambisi sepertinya juga akan mengalami masa-masa malas.

"Tulisan, literasi, ide, adalah ukuran-ukuran peradaban maju yang jarang sekali kita perlihatkan ke Bangsa Barat." Halaman 206

Sedikit kekurangan dalam buku ini menurut subjektif saya, buku ini menjelang akhir rasanya seperti kehilangan klimaks, kehilangan api ambisi seperti pada awal-awal halaman yang membuat saya terus membuka halaman demi halaman mengikuti semangat para tokoh.

Tapi selebihnya saya puas dengan buku ini. Satu, saya bisa menamatkan dengan cukup cepat. Kedua, saya dapat edisi cover lama. Ketiga, saya membaca buku ini tepat pasca saya mengalami konflik dalam keseharian saya. Dan tentu, karena novel ini semacam novel semangat menempuh pendidikan yang inspiratif untuk dibaca.

Menurut saya, pengajaran yang paling baik adalah melalui cerita, dan buku ini memiliki kriteria itu. 

You May Also Like

2 comments