Belajar Tak Benar Bersama Gaspar

by - Sunday, August 27, 2017

Terakhir kali saya membaca cerita detektif itu saat saya masih SMA, itupun saya lupa apa judul buku dan pengarangnya, tetapi saya ingat satu judul cerita yang ada dalam kumpulan cerita detektif tersebut. Salah satu judulnya adalah Menik Menikmati Mati, yang kala itu cerita dan ilustrasinya melekat sampai saat ini di pikiran saya sebab saat itu terasa begitu mengerikan.

Cerita detektif lain yang terkenal misalnya Detective Conan pun pada saat SMA saya sering menyewa komiknya. Setelahnya pun saya juga masih menikmati cerita detektif, tetapi dalam format film seperti film-filmnya Detective Conan dan Sherlock Holmes. Saat ini menyusul lagi cerita dalam format buku, 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif.

24 Jam Bersama Gaspar

24 Jam Bersama Gaspar menceritakan tentang perburuan sebuah kotak hitam yang berawal dari toko emas. Gaspar, tokoh utama pada novel tersebut yang tidak peduli untuk berbuat baik. Gaspar melibatkan tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor kesayangannya yang ia beri nama Cortazar. Kira-kira, mengapa Gaspar begitu menginginkan kotak hitam itu?

Jika setiap rasa penasaran dituruti oleh setiap manusia, maka dengan begitu, kejahatan adalah hal yang lumrah untuk dilakukan. Itulah yang terjadi pada Gaspar. Rasa penasarannya membawa pada hal-hal yang tak mementingkan lagi apa itu kebaikan, apa itu mencegah kejahatan dalam diri sendiri. Sebab setiap kebaikan pun adalah kejahatan yang hanya beratas nama.

Dengan waktu sebanyak 24 jam yang ia punya, sebenarnya tak ada waktu untuk menunggu sehingga rencana perampokan toko emas segera dilaksanakan, tetapi tidak...

Anak muda zaman sekarang memang suka terburu-buru. 'Kau harus mengerti seni menunggu,' kataku, 'dan seni mengatur rencana.' - Gaspar (halaman 42-43)

Jika ingin tahu bagaimana manusia hidup dengan santai tanpa menghayati drama kehidupan yang terkadang melelahkan dan menyedihkan, mari menengok pada Gaspar. Tak ada masalah saat ia melihat orang tuanya berpisah, lalu menemukan dan menciptakan keluarga baru, tak ada ikatan emosional di antara mereka, bahkan mantan pacarnya yang hamil namun yang bertanggung jawab justru teman dekatnya, tetapi masih tetap berteman ketiganya. Keras, tanpa melankolisme.

Antara cerita yang sedikit nakal atau justru mengingatkan kembali bagaimana nilai-nilai kekeluargaan yang mungkin terlupakan.

"Cuma pecundang kelas berat yang tidak membela keluarganya sendiri. Di mana kehormatanmu sebagai manusia, hah?" Halaman 69

Mungkin di dunia nyata juga ada cerita-cerita yang nampak di depan mata terasa santai, tak mempermasalahkan hal besar yang perlu dipermasalahkan, tetapi yang nampak memang bukan tubuh dari masalah sebenarnya. Bagaimana orang-orang ingin dinilai lah yang memperngaruhi caranya menunjukkan siapa dan bagaimana diri mereka.

Jika pepatah yang beredar menyebutkan bahwa kebaikan akan selalu menang, novel yang ditulis oleh Sabda Armandio Alif ini tertulis, pada pengantar: Ingat, Sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim. Atas dasar kutipan menarik itulah yang sering muncul di media sosial yang menjadi alasan saya ingin membaca novel ini.

Cerita pada novel ini menempatkan tokoh utama bukan sebagai si protagonis baik hati tetapi sebagai anti-hero. Lalu saya terpikir satu hal saat di tengah-tengah pembacaan buku ini: seseorang dengan kondisi broken home, siapa yang lebih antagonis atau protagonis di antara keduanya? Tidak ada, tidak bisa kita memposisikan seorang bapak atau seorang ibu sebagai tokoh peran dalam kehidupan kita. Sebab keduanya adalah satu dalam dirimu.

Lalu apakah benar? Bahwa...

"Kita akan selalu menemukan pembenaran terhadap apapun." Halaman 139 

Data Buku
Judul      : 24 Jam Bersama Gaspar
Penulis   : Sabda Armandio Alif
Penerbit : Mojok, Yogyakarta
Terbit     : April 2017
Tebal      : xiv + 228 Halaman
ISBN      : 978-602-1318-48-5

You May Also Like

0 comments