Totto-Chan dan Sekolah yang Menyenangkan

by - Tuesday, May 09, 2017

Terkadang saat kita bertemu dengan orang baru dan mampu mendengar kita tanpa justifikasi apa pun tentang pendapat kita, rasanya seperti bertemu sebuah tempat yang begitu luas dan lapang. Kita akan merasa dihargai seakan nilai diri kita tak lagi kecil. Begitulah yang Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela ini alami saat ia baru berkenalan dengan kepala sekolah barunya, Mr. Kobayashi. Totto-Chan pindah sekolah karena di sekolah lamanya ia dicap sebagai "anak nakal" yang menyusahkan guru dan membuat gaduh karena suka membuka dan menutup meja berulang kali, memanggil pengamen yang setiap kali lewat, dan duduk di jendela. Dengan kepala sekolah barunya, Totto-Chan merasa dihargai dan didengarkan walaupun cerita yang diungkapkan Totto-Chan begitu kacau tidak karuan.

"Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-Chan sampai selama (4 jam penuh bercerita kepada kepala sekolah) itu." Halaman 27

Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela

Sekolah baru Totto-Chan ini bernama Tomoe Gakuen, di mana di sekolah ini menurut saya, murid belajar dalam arti yang sebenar-benarnya, dengan mempelajari apa yang benar-benar ia mau pelajari. Totto-Chan pun di sini tidak dianggap aneh dan berbeda dari yang lain. Kepala sekolah percaya bahwa setiap anak punya hal baik.

"Bagi murid-murid, memulai hari dengan memperlajari sesuatu yang paling mereka sukai sungguh sangat menyenangkan." Halaman 38

Entah kenapa setiap imajinasi yang saya bangun dari cerita demi cerita di novel ini, tervisualisasikan menjadi adegan yang manis, polos, apa adanya, dan terkadang mengharukan. Adegan-adegan yang terjadi dengan polos di novel ini bagai anak kecil yang bercerita apa adanya tanpa dramatisir, tapi jatuhnya justru epic.

di Tomoe Gakuen, ada sebuah kebiasaan makan yang diterapkan dengan sederhana, yaitu mereka dibebaskan dalam memilih makanan apa saja, dengan syarat sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan. Anak-anak yang biasanya rewel soal makanan, dengan metode seperti ini jadi terasa menyenangkan. Sama seperti fisik buku Totto-Chan ini, seperti buku bacaan anak, yang menggambarkan sebuah kesederhanaan, tetapi punya sesuatu yang luar biasa dan bermakna dalam, tentang sebuah pendidikan yang menjunjung tinggi keunikan dan bakat setiap anak.

Sebuah pelajaran yang langsung diambil dari kehidupan sehari-hari, mirip seperti buku parenting dan homeschooling dari Ayah Edy (Pakar Parenting) yang pernah saya baca.

Banyak pelajaran di buku ini seperti tentang tolong-menolong saat murid Tomoe Gakuen berekreasi ke pantai, pelajaran bersikap sopan, dan pelajaran berbelanja. Juga tentang pelajaran musik, yang digunakan sebagai alat melatih konsentrasi. Masa ketika murid-murid bersekolah di Tomoe Gakuen ini adalah masa yang tidak membunuh karakter. Jika seorang teman sedang mencoba berbicara, tak ada yang mengejek, justru antusias menyimak, sehingga anak tersebut tidak merasa dipermalukan.

Ah, iya, anak semanis Totto-Chan juga jatuh cinta pada teman sekelasnya bernama Tai-Chan, tetapi ia mendapat penyataan pedih dari Tai-Chan, "Kalau sudah besar, aku takkan menikah denganmu. Aku tak peduli, walaupun kau memohon-mohon."

Tetapi..., sebuah tekad manis dari Totto-Chan yang setiap hari merautkan pensil Tai-Chan walaupun kemudian Tai-Chan marah, "Aku akan tetap meraut pensil-pensilnya, karena aku cinta padanya."

Totto-Chan meraut pensil-pensil Tai-Chan



UNTUK SIAPA NOVEL INI BISA DIBACA?

Novel ini memberi banyak pelajaran-pelajaran sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak sekolah yang beranjak remaja pun bisa menikmati novel ini. Totto-Chan pun seorang anak kecil yang memasuki dunia sekolah yang kompleks. Kepolosan dan kejujurannya bisa diteladani.

Remaja hingga dewasa, yang bisa jadi mengalami masa sekolah atau kuliah yang sulit lantaran tidak sesuai dengan isi hati dan keinginannya, mungkin saja akan tergugah hatinya dan merasa terhubung dengan membaca gambaran penerapan pendidikan di sekolah Tomoe Gakuen ini. Siapa tahu, kalian akan membangun sekolah yang menyenangkan di masa depan.

"Di sekolah dasar biasa, guru yang akan mengajarkan sesuatu kepada murid-murid harus punya ijazah guru. Tapi Mr. Kobayashi tidak peduli pada hal-hal formal seperti itu. Menurutnya lebih baik anak-anak belajar sesuatu dengan langsung mengerjakannya." Halaman 178

Juga untuk orang tua, untuk mengerti lebih dalam tentang putra dan putri kecilnya. Bahwa setiap anak itu terlahir dengan masing-masing kemampuan yang luar biasa. Juga ada hubungan keluarga yang saling mendukung antara Totto-Chan, Ibu, Ayah, dan Rocky anjingnya. Novel ini tidak menggurui, tetapi memberikan cerita yang bisa kita resapi dengan sendirinya.

Teman-teman, sudah pernah membaca Totto-Chan? Apa kesanmu?

You May Also Like

0 comments