Cinta di Dalam Gelas: Perkara Kopi, Catur, dan Maryamah

by - Wednesday, April 26, 2017

"Lelaki muda, sehat walafiat, terang pikiran, dan punya ijazah, tidak bekerja? Sepatutnya disiram dengan kopi panas!" ancaman seorang ibu yang membawa anaknya, Ikal, harus jadi pelayan Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi milik pamannya. Menjadi asal mula cerita panjang yang membentuk ramuan kisah mulai dari kopi, catur, dan seorang perempuan tak kenal menyerah bernama Maryamah di kampung Melayu, di Belitong sana.

Cinta di Dalam Gelas
dok. pribadi

Ini adalah kisah perempuan yang diterjang ombak hidup yang sedemikian keras bertubi yang membawanya dari seorang perempuan pendulang timah hingga menjadi lawan catur perempuan mematikan pertama di kampung Melayu. Tekatnya begitu kuat dalam belajar tak lain juga untuk mengalahkan Matarom, mantan suaminya, yang jago catur sampai-sampai dalam permainan caturnya ia dikenal dengan rezim Matarom. Ikal dan kawannya saat di luar negeri dulu, Ninockha, seorang grand master catur perempuan sampai turut terseret dalam kisah hidup Maryamah ini.

Jika kau ingat di buku pertama, Padang Bulan (dwilogi), mengisahkan seorang Enong, yang telah menjadi tulang punggung keluarga di usia belia karena kematian ayahnya yang tenggelam dalam lumpur, di buku kedua inilah gebrakan Enong menjadi-jadi. Ya, Enong adalah Maryamah.


APA YANG SAYA PIKIRKAN?

Pak Cik Andrea Hirata, seperti biasa, kata-katanya selalu kaya akan sains, menggetarkan, memesona, sekaligus apa adanya yang terkadang justru jatuh lucu menjadi humor alami. Saat membaca kalimat yang tertulis, saya selalu membayangkan pengucapannya secara langsung. Saya merasa percakapan-percakapan orang Melayu di buku ini semacam penuh syair. Pak Cik pandai sekali meramu kata demi kata, diksinya luar biasa. Kisah yang polos, lugu, apa adanya, tetapi juga dalam.

Mungkin Kawan ( "Kawan". Ah, saya jadi terbawa suasana novel) ingat salah satu novel tetralogi Laskar Pelangi yang berjudul Maryamah Karpov? Dalam versi bahasa Inggrisnya jadi Strange Rhythm atau Ritme yang Aneh jika saya artikan secara dasar. Di novel Cinta di Dalam Gelas inilah judul tersebut terjawab. Maryamah dalam bermain catur suatu ketika menggunakan sistem pertahanan benteng bersusun yang pertama kali dimainkan oleh Anatoly Karpov, sebuah sistem yang tak mudah dipahami.

Bagi para penikmat buku cerita maupun film, mengetahui jalan cerita maupun akhir cerita adalah hal yang menganggu sekali, bisa-bisa menurunkan minat baca maupun nonton. Orang-orang menyebutnya spoiler. Tapi, yang lebih penting daripada itu adalah bagaimana kita menikmati perjalanan detil cerita dan perkembangan karakter tokoh-tokohnya. Ya, buku ini membikin saya tak perlu memikirkan bagaimana akhir ceritanya, bagaimana alur ceritanya, dan bagaimana inti ceritanya. Pak Cik menggambarkan dengan detil yang luar biasa, pengamatan sosial dari orang-orang Melayu yang unik, dan macam mengajak pembaca berdialog.

Ini sebuah novel yang memaparkan soal kehidupan orang-orang Melayu dengan warung kopi yang tak lepas dari kesehariannya. Tentang bagaimana kopi dalam gelas-gelas di warung kopi menjadi teman setia dalam keadaan yang berjenis-jenis. Juga tentang aroma kopi dari Syalimah, Ibu Maryamah, yang selalu dihirup Zamzani, ayah Maryamah, saat ia masih hidup, bahwa ada cinta dalam gelas kopi tersebut. Maka, menurut saya, di situlah representasi Cinta di Dalam Gelas yang sebenar-benarnya. Gelas-gelas kopi yang setia mendengarkan kisah.

"Hanya segelas kopi yang tak pernah banyak tingkah" Halaman 35

Carpe Diem: Diam itu Emas (gambar paling tengah)



PELAJARAN SOSIAL DI WARUNG KOPI

Ikal yang bekerja di warung kopi menemukan banyak fakta sosial unik masyarakat kampung Melayu yang meminum kopi di warung tersebut. Cukup banyak pelajaran soal kopi yang ia rangkum dalam "Buku Besar Peminum Kopi", begitu ia menamai catatan pengamatannya.

"Bagiku, warung kopi adalah laboratorium perilaku, dan kopi bak ensiklopedia yang tebal tentang watak orang." Halaman 74

"Orang Melayu, meskipun tidak modern, paham benar kopi sebagai social drink. Maka, jika ada orang yang minum kopi untuk mengatasi rasa haus, ijazahnya perlu diterawang  di bawah sinar matahari." Halaman 122

"Kopi mengatasi rasa haus dalam bentuk yang lain. Haus ingin bicara, haus ingin mendengar, dan ingin didengar." halaman 122

Banyak sekali hal menarik soal kopi sebagai social drink di novel ini. Jika kau ingin tahu lebih banyak, coba bacalah Cinta di Dalam Gelas ini. Hihihi.. Ngomong-ngomong, Kawan, Ikal di novel ini tak sepenuhnya cinta mati dengan A-Ling, gadis Tionghoa yang ia perjuangkan bertahun-tahun itu, tapi justru sebuah blender kopi di warung kopi pamannya sudah membikin ia sedikit gila. Andai punya kuasa, ingin kumasukkan ke daftar penyakit gila.


PAK CIK IKAL DAN SAKIT GILANYA

Kawan yang mengikuti buku Pak Cik sejak awal pastilah akrab dengan ciri khasnya soal penyakit gila. Inilah daftar penyakit gila yang ia tuliskan di novel ini:

Sakit gila nomor 17: Senang digelari yang tidak-tidak (halaman 26). Sakit gila nomor 29: Mereka yang meminta kopi saja, tanpa air, dan memakan kopi itu seperti makan sagon (halaman 43). Sakit gila nomor 27: Mereka yang minum kopi dari gelas kosong, seolah-olah ada kopi di dalamnya (halaman 125)

BELAJARLAH SEPERTI MARYAMAH

Maryamah sejak usia 14 tahun telah menanggung tugas keluarga lantaran ayahnya meninggal dan ia sebagai anak tertua. Kegigihannya belajar bahasa Inggris, keberaniannya mengambil resiko sebagai pendulang timah sejak belia, dan tak kenal lelah mencari upah demi keluarganya, masih mengantarkannya pada laki-laki yang menjadi suami kemudian mengkhianatinya, Matarom, yang kemudian menjadi lawan mainnya di pertandingan catur 17 agustus. Dari beban demi beban yang ditanggungnya, Pak Cik mengisahkan dengan inspiratif tokoh Maryamah ini. Sepatutnya kita contoh semangat belajar dan jiwa pejuangnya.

Maryamah mempunyai filosofi belajar "Menantang semua ketidakmungkinan."


"Habis sudah air mataku, lunas sudah kesedihan itu. Hidup harus terus berlanjut. Tantangan ada di muka. Masih banyak yang harus disyukuri." Halaman 113 



"Beri aku pelajaran yang paling sulit sekalipun, Boi. Aku akan belajar." Halaman 114


Begitu lah Maryamah, bagaimana ia menjalani hidup sangat patut diteladani. Tidak lemah, tangguh, tahan banting, memungkinkan segalanya, tak malu belajar, gigih, dan yang paling utama, dia adalah seorang perempuan.

-----------------------

Kawan, mungkin saya terlambat membaca buku kedua dari dwilogi Padang Bulan ini. Buku pertama saya baca tahun 2013 silam. Tapi, tak ada yang terlambat perkara membaca buku, kan, hehe...  Kawan sudah baca novel ini? Apa kesan kawan-kawan membaca Cinta di Dalam Gelas ini? Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, ya. Salam.

You May Also Like

0 comments