Tentang Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah

by - Wednesday, February 08, 2017

Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apa lah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang sedang mengaku dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yng akan memberikan jalan baiknya.
(Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah - Tere Liye)




Alhamdulillah, novel Bang Tere, yang saya dapatkan pada bulan desember 2013 lalu, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah, baru saya baca pada bulan februari 2014, akhirnya selesai juga. Novel ini lumayan tebal,  512 halaman.

Saya tidak akan meresensi secara formal, hanya menuliskan hal-hal yang menarik perhatian saya saja. Novel ini menceritakan tentang perjuangan seorang "bujang berhati lurus" bernama Borno yang hidup di Pontianak, yang tidak mudah menyerah dalam kerja dan cintanya. Juga mengisahkan gadis benama Mei, si sendu menawan pujaan hati Borno. Kisah cinta yang tidak menangis-nangis jijay ala ABG alay.

Pada novel ini, Bang Tere dengan sukses mengajak saya berpelesir di sungai Kapuas dengan mengendarai perahu imajinasi. Saya jadi ingin ke Kapuas sungguhan. Menikmati sepit-sepit yang berlalu-lalang, memandang lampu-lampu kota tepian sungai pada malam hari, mendengar suara gemuruh perahu melintas, ah, saya mulai lagi berimajinasi.

Dalam kisahnya, ada seorang pak Tua yang dengan tutur katanya, begitu pas untuk muda-mudi yang tengah dalam asmara, bahwa salah satunya, "Borno, cinta hanyalah segumpal perasaan dalam hati. Sama halnya dengan gumpal perasaan senang, gembira, sedih, sama dengan kau suka makan gulai kepala ikan, suka mesin. Bedanya, kita selama ini terbiasa mengistimewakan gumpal perasaan yang disebut cinta. Kita beri dia porsi lebih penting, kita besarkan, terus menggumpal membesar. Coba saja kaucueki, kaulupakan, maka gumpal cinta itu juga dengan cepat layu seperti kau bosan makan gulai kepala ikan.----- Percayalah, jika Mei memang cinta sejati kau, mau semenyakitkan apa pun, mau seberapa sulit liku yang harus kalian lalui, dia akan tetap bersama kau kelak, suatu saat nanti. Langit selalu punya skenario terbaik. Saat itu belum terjadi, bersabarlah." Nah, bagi kau-kau yang sedang dimabuk atau dipatah cinta, pas sekali kalimatnya, tidak membawa kita termehek-mehek.

By the way, di novel ini banyak saya baca kata "menyengir", kalimat "menggaruk kepala yang tidak gatal" dan "menyeka dahi". Serasa terekam di alam bawah sadar. Dan karena pembahasaan yang digunakan agak melayu, saya juga terbawa suasana, misalnya, "Maju sepit kau, Borno!", terasa berada di hawa Kapuas, meski saya tidak pernah kesana. Hehe...

Dalam membawa saya menuju imajinasi, novel ini serasa hampir sama dengan milik Ilana Tan, penulis tetralogi empat musim dan Sunshine Becomes You, saya terasa ikut berperan dalam cerita, tetapi sebagai tokoh tak terlihat. Namun bedanya, Bang Tere Liye bercerita dengan latar tempat Indonesia, sedangkan Ilana Tan menggunakan latar luar negeri. Recommended, deh!

----------------

Tulisan ini dipublikasikan pertama pada 5 Februari 2014 di blog pertama saya. Saya memindahkan ke mari untuk mengelompokkan saja catatan pembacaan yang pernah saya tulis. 

You May Also Like

0 comments