Perahu Kertas Terlambat Berlayar

by - Wednesday, February 01, 2017

Sejak lama saya tertarik membeli salah satu novel karya Dewi “Dee” Lestari ini setelah membaca tiga buku kumpulan ceritanya yang berjudul Rectoverso, Filofofi Kopi, dan Madre. Saat saya berfikir ingin merensinya, saya pikir sudah banyak resensi mengenai novel ini yang berkeliarandi mesin pencaria google.



Terdengarnya sangat terlambat dalam menikmati novel Perahu Kertas ini. Saya melihatnya pertama kali saat saya masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 2009, saat hangat-hangatnya terbit. Dan saat cerita ini difilmkan pada 2012, saya tidak ingin sedikitpun menonton karena belum membaca bukunya. Dan pada Desember tanggal 11 saya baru membeli bukunya. Esoknya saya membacanya seharian penuh hingga tamat.

Tentu banyak yang sudah tahu, atau hanya saya yang baru tahu tentang keunikan cerita dan tokoh-tokoh yang dihadirkan Dee dalam novel setebal 444 halaman ini. Namun tentu untuk cerita yang dihadirkan Dee, saya tidak kaget apabila cerita itu akan luar biasa. Sejak saya membuka di halaman pertama, Dee mampu menarik saya untuk ikut terus membaca dan menikmati cerita para tokoh.

Kugy dan Keenan, sebagai tokoh utama dalam cerita ini merupakan dua remaja dengan mimpi dan kehidupan yang unik. Kugy dengan khayalan aneh dan dongengnya yang mampu menginspirasi Keenan dalam menciptakan karya lukis yang bernyawa. Oh, tentu saja penulislah yang patut saya kagumi, mampu menghadirkan tokoh dan cerita unik seperti ini, betapa ide yang luar biasa.

Sebagai pembuka cerita dalam novelnya, Dee menghadirkan tokoh Keenan dan Kugy di masing-masing tempat sebelum perpindahannya sebagai mahasiswa di Bandung. Keenan di Amsterdam, dan Kugy di Jakarta. Pada Filmnya di bagian pertama, dimulai dengan Kugy yang mengirim surat berupa perahu kertasnya pada Neptunus bahwa ia akan pindah ke Bandung.

Banyak perbedaan antara cerita dalam novel dan dalam film di bagian pertama. Tentu pada umumnya antara novel dan film tidak mungkin sama persis sebab film memiliki durasi yang tidak akan menampung cerita-cerita detail intermeso dalam novel. Perbedaan itu di antaranya, dalam novel Kugy mencari Keenan di stasiun dengan pengeras suara dari petugas informasi, tetapi pada film mereka bertemu langsung, Kugy menabrak Keenan dengan cara radar neptunus (meletakkan kedua telunjuk tangan di sisi atas kanan dan kiri kepala). Perbedaan selanjutnya, pada novel, Kugy tidak ikut saat pertemuan dengan kedua sahabatnya, Noni dan Eko, yang membawa Wanda untuk dicomblangkan dengan Keenan, namun di film, Kugy tetap ikut dan saat di tempat Keenan ia merasa sakit hati melihat Wanda dan Keenan. Pada film bagian pertama ini banyak cerita yang dipersingkat sehingga cerita yang di novel yang menurut saya cukup panjang dan tokoh-tokohnya melewati pergolakan yang hebat, menjadi kurang tereksplorasi di film.

Film bagian pertama menurut saya, mencakup bab satu sampai 35 dimana hal itu sebanyak 335 halaman. Sedangakan film bagian kedua adalah halaman sisanya. Hal ini berdampak pada film bagian kedua cukup mendetail sesuai dengan cerita dan dialog-dialog yang ada di dalam novel.

Saat menyaksikan film keduanya, saya sering meneteskan air mata lantaran teringat percakapan-percakapan yang telah saya baca di novel dan menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Dan karena saya membeli novelnya dengan sampul edisi film, maka saya sudah dapat menduga seperti apa tokohnya tanpa mereka-reka. Terus terang saya jatuh cinta pada tokoh Keenan. Hehe.

Akhir film ditutup dengan epilog yang disajikan pada novel, Kugy yang menghanyutkan perahu kertas terakhirnya untuk Neptunus dengan ditunggui Keenan, yang telah menjadi satu-satunya ilustrator untuk dongeng-dongeng Kugy. Perjalanan meraih mimpi dan cinta yang cukup panjang. Untuk novel ini saya beri rating lima bintang! Saya suka sekali. Oh kurang, sangat amat suka.

----------------

Tulisan ini dipublikasikan pertama pada 16 Desember 2014 di blog pertama saya. Saya memindahkan ke mari untuk mengelompokkan saja catatan pembacaan saya. 

You May Also Like

0 comments