A Wish for Love - Love isn't Everything, Oxygen is

by - Wednesday, February 22, 2017

Sebagian orang membutuhkan adanya cinta untuk bisa hidup bersama dalam suatu hubungan istimewa namun ada beberapa yang berfikir bahwa untuk hidup berdampingan dalam ruang istimewa tersebut cukup lah dengan dua orang yang saling peduli dan menghormati.
Begitulah gambaran pesan dari sinopsis novel yang ditulis oleh Mariskova ini. Novel ini menceritakan tiga tokoh yang masing-masing mengalami masalah perasaan yang perlu diselesaikan (saya tidak menyebutnya masalah karena bagi tiap orang, perasaan yang tidak semestinya adalah belum tentu suatu masalah). Keunikan dari cerita novel ini salah satunya menceritakan kenyataan yang seringkali dilupakan para remaja-dewasa bahwa cinta memang bukan segalanya. “Love is not everything, oxygen is.”


a wish for love
sumber gambar: tokopedia


Berikut sinopsis di sampul belakang novel A Wish for Love ini:

Love is a myth.

Cinta hanya datang kepada sedikit orang yang beruntung. Dan aku bukan salah satu orang yang beruntung itu.

But that’s fine. Aku tidak membutuhkan cinta. Menurutku, dua orang dewasa yang saling peduli dan menghormati sudah cukup untuk menjalin hubungan yang baik. Seperti aku dan Rio. Bertahun-tahun aku menjadi kekasih Rio tanpa pernah mencintainya dan itu sudah cukup. I can live with that. I really can... sampai seorang lelaki lain membuat dunia berhenti berputar dengan senyumnya dan mata bulan sabitnya.

Kini ada dua laki-laki mengharapkan cintaku. Siapa yang harus kupilih?

I have to choose love, why does it hurt so much?



Kirana : seorang perempuan berusia 29 tahun yang bekerja sebagai dosen bahasa inggris namun belum menikah, tetapi telah bertunangan dengan seorang yang amat mencintainya. Meskipun sudah bertahun-tahun mereka bersama, tetapi Kirana tidak memiliki cinta yang spesial untuk Rio. Namun tak lantas hubungan itu harus berhenti. Kirana berpandangan bahwa dua orang dewasa yang memiliki rasa peduli dan saling menghormati sudah cukup untuk syarat hidup berdampingan.

Rio : Tunangan Kirana yang sudah menyukai Kirana sejak mereka dipertemukan dalam ospek di universitas. Baginya, Kirana menjadi penyebab naik turun moodnya dengan mudah. Meskipun ia tidak yakin entah Kirana mencintainya atau tidak, ia tetap kukuh mempertahankan hubungannya itu. Rio selalu bersikap sabar pada Kirana yang seringkali cuek dan menganggap semua hal menjadi enteng, padahal bagi Rio merupakan sesuatu yang besar.

Yoshioka : Seorang profesor muda dari Jepang yang bertemu dengan Kirana di suatu konferensi di Bali. Dialah lelaki bermata bulan sabit yang tiba-tiba hadir dan membuat Kirana harus menentukan pilihan untuk hidupnya.

Awal cerita dimulai dari kondisi chaos Kirana yang sedang berlari dikejar preman dan menimbulkan pernyataan, “Love is not everything, oxygen is”. Inti cerita ini adalah kepergian Kirana ke suatu konferensi di Bali untuk beberapa hari. Hal tersebut membuat Rio kalang kabut karena sebelumnya Kirana tidak memberitahunya sejak awal. Dan pada saat Kirana telah di Bali, tempat konferensi dilaksanakan, Rio tidak dapat menghubungi Kirana karena masalah handphone Kirana yang bermasalah. Selama di Bali, Kirana tanpa sengaja bertemu dengan Yoshioka yang dapat memberikannya perasaan aneh yang belum ia rasakan selama bersama Rio. Dari situlah konflik batin dimulai. Kirana dan Yoshioka makin lama makin saling mengenal lebih jauh. Pada akhirnya, Kirana dihadapkan pada pilihan antara memilih bersama Rio yang sangat mencintainya dan mau melakukan apapun untuknya atau kah dengan Yoshioka, lelaki bermata bulan sabit yang baru ia kenal dan dapat membuatnya jatuh cinta.

“Cinta hanya datang kepada sedikit orang yang beruntung. Dan aku bukan salah satu orang yang beruntung itu.” Kalimat dalam sinopsis itulah yang membuat saya tertarik untuk membacanya karena penasaran apa yang dimaksud penulis dengan kalimat itu. Setelah membacanya lantas saya tahu bahwa itu pernyataan Kirana sebab ia bisa bertahan lama dengan Rio meskipun ia tidak merasakan cinta terhadap Rio. Kirana ingin sekali merasakan apa yang orang sebut cinta.

Membaca novel ini cukup menjelaskan bahwa dalam suatu hubungan yang telah bertahun-tahun terkadang bukan cinta yang dibutuhkan, tetapi kepedulian dan tanggung jawab. Hal tersebut nampak dalam cerita Kirana-Rio yang tidak saling mencintai, hanya Rio saja yang mencintai tetapi hubungan mereka tetap dapat bertahan. Serta dalam kisah orang tua Kirana yang makin tua makin pudar rasa cinta itu, tetapi kepedulian lah yang berperan.

Penulis novel ini menceritakan kisah yang dialami oleh tiga tokoh utama ini dengan sudut pandang dari masing-masing tokoh, sehingga tergambar jelas bagaimana perasaan yang dimiliki tokoh-tokoh tersebut sedang mengalami konflik. Tidak sulit dalam mencerna cerita dalam novel ini karena Mariskova menuturkannya dengan rapi. Dengan akhir yang cukup bisa ditebak, tetap tidak menghilangkan ketertarikan untuk terus menyimak (membaca) novel ini sampai akhir. Saya tetap rekomendasi meskipun novel ini tidak memiliki kesan yang terlalu mendalam bagi saya. Secara keseluruhan, dari 5 bintang, rating pribadi 3.5 untuk novel ini. Bagi Anda yang akan memilihnya dari toko buku sebagai koleksi ruang baca, selamat menikmati.

-------------

Tulisan ini dipublikasikan pertama pada 26 September 2014 di blog pertama saya. Saya memindahkan ke mari untuk mengelompokkan saja catatan pembacaan yang pernah saya tulis. Tulisan ini juga pernah diikutkan dalam kuis resensi Pilihan Gramedia Pustaka Utama.

You May Also Like

0 comments