Saya Menulis, dan Saya Bangga

by - January 23, 2017

Hobi menulis tak selamanya nampak menyenangkan, setidaknya bagi orang yang tak memiliki hobi menulis. Buat saya menulis hal-hal seperti ini, membuat catatan-catatan dari buah pemikiran saya adalah hal efektif untuk mengangkat beban. Kalau pun tak ada yang membaca, akan jadi sebuah terapi yang bagus untuk nutrisi jiwa saya. Ya, seperti ini, saya merasa senang.



Kalau pun apa yang saya tulis berupa kesedihan, setidaknya kesedihan itu menjadi bermakna, bisa untuk saya ingat suatu saat. Menulis adalah merekam kejadian yang bisa saja akan terlupakan.

Tapi, tak sedikit pula yang meremehkan. "Hobimu itu tidak akan menghidupimu."

Ya, sering saya mendengar hal seperti itu. Tapi tak akan menyurutkan semangat saya untuk menulis. Ngeblog juga bagian dari menulis. Menyenangkan saja rasanya jika apa yang saya tulis tak sekedar tulisan 'status fesbuk' abege alay. Media blog inilah yang mendukung saya.

Pernah saya lolos dalam lomba menulis cerita pendek. Saat saya 'memamerkannya' pada seseorang, justru yang saya dapat adalah "Ngapain sih harus nulis kayak gini, sesuaikan dengan sekolahmu, dong."

Okay, pamer adalah hal yang salah, jika pada orang yang salah.

Biar pun ada yang meremehkan bahwa saya ngeblog dan menulis adalah hal yang sia-sia, tapi saya bangga. Sebab ini adalah salah satu kebahagiaan saya yang tidak mampu orang lain rampas. Kalau saya boleh arogan, bagi saya, ini adalah sebuah kemampuan.


---------

Tulisan ini merupakan tulisan Day 6 dari 10 Days of Writing Challenge oleh @kampusfiksi #10DaysKF [ceritakan tentang hal di mana kamu pernah membanggakan sesuatu sementara orang lain justru meremehkan.]

You May Also Like

2 comments

  1. Verba vollant scoprite mannet. Kira kira seperti itulah bunyi peribahasa latin. Kata yang terucap akan lenyap. Namun yang tertulis akan abadi. Kurang lebihnya seperti pemaknaan saya secara harafia.

    Terkait soal menulis jika yang berkata seperti itu seorang ibu atau mereka yang sudah senja. Maka saya berhenti untuk menulis komentar ini. Tetapi jika mereka yang masih berlabel pelajar berpikir seperti itu maka jawab pertanyaan saya hehe.. "emang situ kuliah ngak ketemu makluk yang bernama skripsi tesis dan disertase. Hay anak muda pada fase ini (skrips) via dolorosa jalanmu. Ditolak dosen, dibuang, dimarah dan lain sebagainya. Dengan terbiasa menulis engkau melatih diri untuk melewati fase ini.

    Orang orang Finlandia kasih kado natal atau ulang tahun itu buku bukan jeruk. Tengok pendidikan di Finlandia. Kita (baca: Indonesia opo?)

    Miris lihat anak negeri.
    Intlektual muda. Terus berkarya dan berbagi inspirasi. Memberi tidak harus dengan uang. Melalui tulisan pun bisa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin masih sedikit anak-anak yang senang jika mendapat kado buku ya, Kaka Guru? Buku akan mengantar mereka pada, "Yah, harus membaca ini dong? Malas ah. "

      Benar, Kak, tugas-tugas akhir kuliah tersebut juga bagian dari menulis. Tapi bisa juga menjemukan karena itu adalah tuntutan, makanya menulis di blog tentang hal lain selain perkuliahan adalah hal yang menyenangkan. Hehe

      Delete