Kekasih Dambaan: Sebuah Persoalan

by - Wednesday, January 18, 2017

Salah seorang sahabat saya pernah berkata, “Kalau kamu, lebih pas dengan orang yang diam tidak neko-neko.”

“Maksudnya yang bagaimana itu?” Saya menanggapi.

“Kamu itu tipikal orang yang punya banyak keinginan atau mimpi. Kamu juga tidak suka dicampuri urusannya, tidak terlalu suka diintervensi. Laki-laki yang tahu apa hal yang kamu suka, tidak banyak mengatur, dan mendukungmu itu menurutku yang bisa kamu terima,” jawabnya.

Saya melempar senyum lebar sepakat dengan jawabannya.

a rose and a butterfly - doc.  pribadi

Di usia menjelang seperempat abad begini, percakapan perihal asmara sudah semakin serius. Apa yang kita cari dari sebuah hubungan emosi dengan lawan jenis? Apakah hanya untuk menikah dan hidup bahagia selamanya seperti negeri dongeng? Bicara kekasih di usia dewasa awal bagi saya adalah perkara kompleks yang tidak lagi sekedar suka, jadian, ada masalah langsung putus, lalu menjalin pacaran dengan orang baru lagi seperti masa-masa sekolah.

Setiap orang pasti punya kriteria yang diharapkan yang dapat menjadi kekasihnya kelak. Dalam hal ini beruntung saya belum memiliki seseorang yang bisa disebut pasangan sehingga saya masih memegang kriteria yang menjadi dambaan saya secara pribadi. Jika saya sudah punya pacar, mungkin saya tak akan bicara kriteria yang sebenarnya saya inginkan karena akan dipengaruhi oleh realitas, maksudnya saya akan cenderung memihak ke tipikal yang ada pada pasangan saya.

Tiga hal yang sering saya pikirkan saat terlintas dalam pikiran saya sendiri, “pasangan seperti apa yang sebenarnya saya harapkan?”

Jika sebagian orang mengatakan cinta tak butuh alasan, maka saya pikir saya butuh alasan. Kenapa saya jatuh hati dengan kekasih saya? Apa saja hal-hal yang bisa saya jadikan sebuah kebanggan menjadikannya kekasih? Jika daftar itu ada, maka bisa kita tengok kembali jika suatu ketika tengah ada masalah atau bosan atau salah satu ingin meninggalkan. Untuk sebuah hubungan yang serius, saya pikir itu tidak masalah. Rasa bangga pada pasangan. Bukan berarti harus punya prestasi yang banyak, tapi bisa juga soal sifat yang kita suka darinya, tentang hobinya, tentang mimpi yang sedang ia perjuangkan, tentang kerja kerasnya. Itulah yang mengiringi perasaan saling mendukung menurut saya.

Hal yang akan sering kita lakukan saat memiliki kekasih adalah intensitas percakapan kita akan meningkat dengan orang tersebut. Obrolan yang nyambung dan tidak membuat masing-masing merasa bosan adalah hal yang saya harapkan. Memiliki kekasih, tujuannya tentu untuk sesuatu yang lebih serius, pernikahan. Pagi, sore, malam, kita akan selalu memiliki obrolan dengan kekasih. Yakin, kita akan menghabiskan seumur hidup dengan percakapan yang tidak kita nyaman? atau bersama dengannya jutaan jam sekalipun obrolan tak jadi bosan?

Dan satu hal yang mungkin bisa meredakan dua hal yang kesannya egois di atas, kami bisa bahagia berbagi satu sama lain dalam hal remeh temeh, seperti memunggungi matahari terbit, berlari mengangkat jemuran jika tiba-tiba hujan, tetap suka naik motor atau bersepeda walau ada mobil (uhuk!). Dan bisa membagi cerita masa kecil sesaat sebelum terlelap.

Tapi...

“Kayaknya semakin ke sini, semakin sering ketemu orang, tapi semakin susah nyari yang cocok.” – Nic dalam Nic and Mar episode 4.

Tapi kriteria tetaplah kriteria. Sementara kita tidak akan pernah tahu akan jatuh hati pada siapa. Terkadang, kriteria yang kita inginkan hanyalah penggambaran dari sesosok nama yang sebenarnya telah ada dalam hati kita. Ia yang sudah bersedia terikat secara emosi dengan kita, maupun ia yang masih samar-samar keberadaannya.

Selamat mendamba dan mewujudkannya menjadi nyata. Kalau kamu, kekasih dambaanmu yang seperti apa?

-------------

Tulisan ini merupakan Day-1 dari 10 Days writing challenge dari @kampusfiksi #10DaysKF

You May Also Like

0 comments