[Buku] Critical Eleven: Sebelas yang Terlalu Lama

by - Monday, November 21, 2016

“Bagaimana pun apa yang sudah dimulai, sudah seharusnya dituntaskan.”

Kutipan itu bagi saya memiliki dua fungsi. Pertama sebagai fungsi penyemangat. Tentang apa-apa yang sudah diawali maka kita ada kewajiban tak tertulis harus mengakhiri, bagaimana pun caranya. Kedua sebagai fungsi penganggu. Saya menyebutnya penganggu karena membuat saya susah berpaling ke yang lain sementara apa yang sudah dimulai tadi tak kunjung selesai.


Critical Eleven - Ika Natassa


Itu yang saya alami saat membaca Critical Eleven-nya Ika Natassa dengan 344 halaman ini. Saya merasa sudah termakan ekspektasi yang tinggi pada novel ini. Banyak seliweran retweet dari sang penulis yang bernada positif dari para pembaca dan menggugah orang untuk ikut membaca.

Novel ini saya dapatkan sebagai hadiah dari sahabat saya di ulang tahun saya tanggal 11 Maret lalu. Sudah cukup lama, ya. Bertepatan dengan ribut skripsi, membaca setengah-setengah, dan susah konsentrasi, membuat novel ini malah tuntas saya baca di Bulan 11. Pas sekali dengan judulnya yang mengandung unsur 11. Ah, konspirasi macam apa ini.

Baiklah, kita masuk ke mengenai isi buku.

Novel ini mengisahkan suami istri, Ale dan Anya, yang dirundung masalah pasangan suami istri sehingga menjadi konflik dalan cerita ini. Saya mau berfokus pada Anya karena saat saya membaca sampai pada masalah yang dideritanya seakan saya ingin mengumpat keras-keras dan dibuatnya kesal. Saya membenci tokoh perempuan yang lemah, berlebihan, dan berlarut-larut dalam masalah. Apa itu artinya penulis memang mampu menggiring saya pada situasi yang dirasakan tokoh? Yap. Tapi karena hal itu, saya makin lama makin bosan. Anya seakan berkutat dengan ruang masalah yang ia ciptakan sendiri dan tak mampu memberi ampunan pada suaminya yang ia rasa bersalah. Atau saya justru merasa masalah yang ada novel ini sebenarnya kurang kuat, tetapi dibesar-besarkan.

Critical Eleven sendiri adalah istilah dunia penerbangan, sebelas menit paling kritis dalam pesawat. Judul ini mungkin pas menurut hemat saya karena kedua tokoh bertemu dalam pesawat dan keduanya sering melakukan perjalanan dengan pesawat.

Alur yang maju mundur di novel ini terasa diciptakan dengan apik oleh sang penulis. Pembaca (saya) seakan tak menyadari bahwa tiba-tiba ada di cerita masa lalu, beberapa detik kemudian ada di masa kini lagi. Tapi karena seringnya hal itu terjadi, membuat saya merasa naik bus dengan sopir yang meskipun tidak ugal-ugalan, tetapi melewati jalan berkelok sepanjang waktu, capek dan agak pusing.

Buku yang menarik bagi saya membuat saya tak ingin segera sampai di halaman terakhir. Untuk hal ini saya juga menyalahkan diri saya sendiri karena kecepatan membaca yang rasanya menurun dan tidak membaca secara totalitas. Saya ingin segera pindah buku, tetapi jika saya tak menyelesaikan buku ini rasanya tidak lega. Dan saya senang di detik-detik terakhir pembacaan novel ini saya terbawa suasana dan ikut merasakan suasana hati para tokoh.

Ada yang saya tunggu-tunggu di perihal Critical Eleven ini. Kabarnya akan difilmkan. Yang membuat saya menunggu-nunggu adalah siapa yang akan memerankan Ale dan Anya ini, apakah benar aktor dan aktris favorit saya itu? Maaf saya tak menyebutkan siapa. Hehehe...

Semoga sukses untuk kelanjutan kisah novel yang akan difilmkan ini.

You May Also Like

4 comments

  1. Aku selalu suka baca karya-karyanya Ika Natasa,, kecuali yang buku pertamanya dia yang ditulis dalam bahasa inggris ketika dia remaja *lupa judulnya*,, aku baca critical eleven lumayan 'capek' karena ya itu konfliknya dari diri tokoh utamanya sendiri,, tapi tulisannya tetep ciamik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru pertama ini baca karya Ika Natassa. Heheh...
      Iya, saya suka sih gimana cara dia bercerita apalagi dari peralihan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris itu kece, sih. Tapi ya gitu, di CE ini lumayan 'capek'. heheh sampai gemes banget.

      Delete