[Buku] Dilan (Bagian Kedua) 1991: Ambisi Cinta Lugu Masa SMA

by - Monday, November 14, 2016

Setelah membaca Dilan (Bagian Pertama) 1990, saya melanjutkan buku yang kedua yang berjudul sama, Dilan (juga) Bagian Kedua 1991 ini. Bukan buku bernuansa metropop, bukan pula teenlit, tetapi masih relevan jika dibaca kelompok remaja hingga dewasa sekali pun.

Dilan (Bagian Kedua) Dia adalah Dilanku Tahun 1991

Bagi pembaca yang langsung membaca pada Dilan Bagian Kedua 1991 tanpa membaca novel yang sebelumnya, tidak masalah saya pikir. Pidi Baiq, sang penulis menyertakan repetisi, cerita dari novel sebelumnya untuk membantumu mengenal karakter dan awal mula cerita.

Novel ini berkisah tentang masa lalu seorang Dilan dan Milea semasa SMA. Seperti kisah-kisah cinta masa SMA, penuh ambisi, dan lumayan drama seakan mereka telah dewasa. Tapi di situ yang menjadi lucu dan bisa jadi mengingat masa SMA bagi pembaca yang sudah tidak remaja lagi.

Dilan, seorang anak SMA pentolan geng motor. Mungkin Dilan ini representasi dari bad boy yang banyak dikagumi perempuan. Meski ia nakal, ia berprestasi di sekolahnya, dan tidak macam-macam dengan cewek. Selain itu juga, Dilan ini ‘anak Bunda’. Entahlah, meski badboy, Dilan ini sabar sekali menghadapi Milea.

“Aku tidak suka dikekang.” Dilan, Halaman 311

Milea, gadis yang beruntung bisa jadian dengan Dilan. Tetapi saya kurang suka dengan karakter Milea yang terkesan mengekang kekasihnya itu dan kadang ingin semua kemauannya dituruti oleh Dilan. Milea ini tipikal cewek yang suka dirayu pacarnya. Ah, tapi semua perempuan suka, ya, dirayu pacarnya, dipuji padahal mereka tahu itu bohongan belaka.

“Kata-katanya selalu bisa membuat perasaanku melambung.” Itu salah satu hal yang bisa membuat Milea jatuh cinta pada Dilan.

Seperti yang saya tulis tadi. Mungkin itulah kenapa perempuan suka digombalin oleh kekasihnya, meskipun tahu itu karangan/mengada-ada dan cuma sekedar kata. Sama seperti makian/cacian yang dianggap sekedar kata, tetapi menjadi sebab tersinggung dan sakit hati lantaran mengambil hati perkataan itu.

Buku ini bercerita dengan lugu perihal masa lalu. Seperti membaca sebuah buku harian. Kadang beberapa kalimat jadi terasa tidak efektif, tetapi membacanya tetap terasa mengalir. Oh iya, novel ini memang cerita yang diceritakan langsung oleh Milea dewasa tentang kisah cintanya dengan Dilan saat ia masih bersekolah.

Salah satu kesan di buku ini yang sedikit menganggu saya, penggunaan kata “dipecat” yang seringkali digunakan sebagai “dikeluarkan dari sekolah.” Tidak ada masalah, sih, tetapi terdengar aneh saja menurut saya.

Buku ini masih ada kelanjutannya berjudul “Milea”. Saya belum membacanya. Entah bercerita dari sudut mana, mungkin saja dari pandangan Dilan yang menceritakan masa lalunya bersama Milea. Teman-teman sudah baca belum? Yah, itu saja catatan pembacaan singkat dari saya.


“Masa lalu bukan untuk diperdebatkan, kukira itu bagus. Mari biarkan.” Milea, halaman 342

You May Also Like

0 comments