Nyaris Sampai di Batu Susun Solor, Situs Megalitikum di Bondowoso

by - Sunday, April 17, 2016

Lama sekali saya tak jalan-jalan atau istilah kerennya anak-anak hits itu travelling. Ah, travelling, pengen sekali saya travelling. Tapi adanya sih jalan-jalan, nggak jauh-jauh, masih dalam kota.



Sehari sebelum kemarin, saya dan sahabat saya, Aulia, merencanakan jalan-jalan akhir pekan bersama salah satu teman sekampus kami, cowok, Aan. Kami bertiga sudah sepakat akan pergi esok paginya. Rencana awalnya, kami ingin ke kebun teh, tetapi saya tak tahu itu di mana, si Aan yang akan memandu katanya. Karena masih belum fix, malam harinya, kami berdiskusi di grup WhatsApp. Setelah obrolan kesana kemari, si Aan membatalkan rencana jalan-jalan bertiga dengan suatu alasan. Akhirnya, saya dan Aulia sepakat pergi berdua. Cewek-cewek.


Aulia mengusulkan pergi ke situs megalitikum Batu Susun Solor (Solor Stonehenge), di daerah Bondowoso. Kami berdua belum pernah ke sana, tak tahu medannya. Dengan modal nekat, Google Map, sesekali bertanya pada penduduk, dan bersepeda motor, -esok paginya- kami berangkat.

Desa Solor, terletak di Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Cukup jauh dari Jember, malahan hampir sampai di Situbondo. Yah, secara jauh hitungannya kami berjalan-jalan hingga ke Situbondo.

Kami mencoba bertanya ke penduduk -setelah batere henpon yang saya gunakan untuk penunjuk jalan itu habis- dan kami mendapat respon, "Wah jauh lho itu, Mbak..."

"Ah, tidak apa-apa, Pak, memang tujuan kami ke sana." Saya jawab dengan pandangan 'tenang saja, Pak, kami bakal sampai ke Solor'. Memang kami pikir, karena kami sudah cukup jauh sampai di sini, kami harus sampai. Ya, tanggung.

Terus, terus, dan motor terus berjalan. Kami tetap yakin akan sampai, karena melihat papan-papan ini. Wuhuuu...

entah ini papan penunjuk yang ke berapa yang baru sempat saya foto



papan seperti ini menjadi semacam harapan. hehehe


Tapi, lama kelamaan papan-papan itu tak ada lagi. Kami seperti tersesat. "Wah, papan-papan tadi aja sudah lelah mbak nunjukin jalan ke kita," Ujar saya karena merasa sudah cukup jauh. Dengan medan jalan berbatu, menanjak, daerah hutan, sesekali berlumpur karena bekas hujan, pinggir kami tebing curam, dan motor kami matic. Kami masih meneruskan perjalanan dengan tanya arah ke penduduk yang masih ada di situ namun sudah jarang. Bahan bakar motor pun tinggal sedikit, lantas kami ragu antara lanjut atau pulang. Ah, kasihan sekali motor saya.

Jalanan sudah sepi. Tak ada orang lagi. Pinggir jalan sudah jurang. Jalan di depan kami cukup sejuk-sejuk seram, rimbun. Benar-benar sepi. Mungkin beberapa ratus meter lagi kami akan sampai dan bisa melihat Batu Solor itu, mungkin, tapi kami berdua memutuskan untuk kembali. Firasat kami buruk, tak dapat dikompromi.


"Berani dan khilaf mungkin saja beda tipis."

Di perjalanan kembali pulang, kami salah jalan. Bukan jalan yang kami lewati tadi. Aulia panik, saya berlagak tak panik. Saya cuma meyakinkan diri, pasti ketemu jalan besar nanti. Makin lama, jalanan yang kami lewati makin berbeda dari jalan waktu kami berangkat. Tetapi terus kami lewati, bahkan tak kami temukan papan-papan penunjuk Stonehege tadi.

Saat itu target hidup dramatis kami adalah "Harus ketemu jalan raya/keramaian dulu!"

Di saat-saat panik mencari jalan pulang, saya mendengar suara musik India, OST Dilwale, sayup-sayup. "Hapemu bunyi, Mbak? Ada telpon tuh?" Saya tanya ke Aulia.

Dia jawab, "Iya, Mbak. Aku sengaja nyetel India biar gak sepi... takut, Mbak..." #JDYAARR *tepok jidat* Yah, tapi lumayan intermezo, lah. Hahaha

Dengan berbekal keyakinan yang meragukan, kami sampai di jalan aspal. Ini titik terang, kami lega. Hehehe... Tapi, motor saya sudah macam mandi lumpur. Saking paniknya pun kami tak sempat berfoto-foto. Biarlah tulisan ini yang mengabadikan.

Motor jadi sangat kotor, sepatu dan celana juga berlumpur. Sesampai di Jember, kami mampir di tempat cuci motor, dan bercakap-cakap tentang perjalanan yang baru saja terjadi.

Aulia bilang, "Mbak, seandainya kita tadi 100meter lagi sampai di situs megalitikum itu, aku enggak nyesel udah milih kembali, meski perjalanan kita sudah jauh banget." Saya setuju! Iya, keselamatan kita enggak ada yang bisa menjamin kecuali diri kita sendiri. Dari perjalanan ini saya ambil pelajaran kalau enggak yakin, jangan diteruskan. Dan saya masih enggak tahu, jalan yang kami lewati itu benar atau salah. Yang terpenting, kita sudah sampai rumah, bawa oleh-oleh pengalaman.

Bagus, kan? Iya, inilah Batu Susun Solor yang ingin kami lihat langsung.
sumber gbr: nationalgeographic.co.id


Teman-teman pernah mengalami cerita seperti ini? Cerita, dong... Untuk Aulia, kapan-kapan kita jalan lagi, ya! :D

You May Also Like

2 comments

  1. Kayak stonehage *bener gak nih nulisnya, ah abaikan* versi bondowoso ya... Pingin ksana tapi ikutan takut T.T

    *jangan2 papan penunjuknya gak sengaja di puter sama anak2 setempat pas lagi main....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dicoba aja kak tapi bawa teman yang banyak, hehehe...
      nah ya itu, jangan-jangan begitu, ya. T.T

      Delete