Antara Gitar Klasik dan Gitar Akustik

by - Thursday, March 17, 2016

Dua hari yang lalu saya membeli gitar klasik ukuran kecil di Gramedia. Sudah lama saya ingin sekali punya gitar kecil yang pas untuk ukuran saya. Akhirnya nabung dan terbeli, deh. Alhamdulillah, yah... Hihihi... Sebenarnya ada satu gitar non-elektrik di rumah, tetapi terlalu besar dan sekarang sudah mulai rusak, milik bapak dulu, sih.



Kesalahan saya, saya tidak tahu bedanya gitar klasik dan gitar akustik. Hanya karena saya suka model dan warna dari gitar klasik, jadilah saya pilih itu. Sempat ragu juga sih karena bapak menyarankan pilih gitar akustik saja. Karena ada sedikit goresan di pinggiran badan gitarnya, jadi saya tidak jadi pilih akustik. Saya pikir sih sama saja, sepertinya.

Saat bapak sempat bertanya ke petugasnya, "Bedanya ini (sambil nunjuk gitar akustik) dan ini (sambil nunjuk gitar klasik) apa mas?"

Petugasnya menjawab, "Ya sama saja sebenarnya, pak. Tapi kalau pemula lebih enak yang gitar klasik."

Singkat cerita saya pulang dengan membawa gitar klasik. Sampai di rumah, esok harinya saya mainkan terus. Tapi lama kelamaan saya menyadari, sepertinya saya salah pilih.



Setelah dicoba, dirasa-rasa, dan dicari referensi soal perbedaan kedua gitar ini, saya ingin membagi tentang apa perbedaannya masing-masing. Semoga siapapun yang membaca tidak mengalami salah pilih seperti saya.

Seperti Apa Gitar Klasik?
Berdasarkan Wikipedia, gitar klasik adalah jenis gitar akustik yang biasanya digunakan dalam musik klasik. Gitar ini memiliki ciri khas pada senarnya yang terbuat dari nylon dan pada umumnya memiliki 12 fret.
Jadi, gitar klasik menggunakan senar nylon sehingga bagus untuk pemula karena tidak terlalu melukai jari, menurut petugas toko pun begitu. Untuk leher gitarnya, gitar klasik lebih lebar sehingga memudahkan untuk belajar gitar. Untuk suara, gitar klasik ini lembut dan lebih ngebass, tetapi tidak panjang suaranya serta memang lebih cocok untuk musik-musik klasik.

Gitar Klasik-ku, sebelum kutukar :')

Kenapa Pilih Gitar Akustik?

Saya sendiri lebih sering main-main musik pop, jadi terasa kurang pas. Dengan jari-jari saya yang tidak terlalu panjang, harus usaha keras merangkul leher gitar klasik yang agak lebar ini (Yah, tidak bisa jadi alasan juga, sih, ya. Hehe). Apalagi saya belum bisa main melodi, hanya sebatas genjreng-genjreng asal senang, memainkan lagu yang bisa saya nyanyikan. Menengok apa yang lebih saya inginkan tersebut, saya merasa tidak cocok dengan gitar klasik ini. Sedangkan, gitar akustik punya karakteristik suara yang kuat, dan getarannya panjang. Leher gitarnya pun tak selebar gitar klasik. Senarnya bukan dari nylon, tetapi senar baja.

Gitar Akustik yang baru

Tanpa pikir panjang lagi, sebelum waktunya lama dan tidak dapat ditukar (pikir saya), saya segera menghubungi pihak Gramedia Jember. Alhamdulillah fast response dan pihak Gramedia memperbolehkan saya jika melakukan tukar tambah dari gitar klasik ke gitar akustik dengan catatan struk belanja masih ada dan kondisi barang masih seperti semula. Terima kasih, Gramedia Jember.

Itulah pengalaman kecil saya soal ketidakcocokan memilih gitar karena ketidaktahuan. Huhu... Baiknya memang cari tahu dulu tentang apa-apa yang ingin kita beli, toh sekarang sudah era google, segalanya bisa diakses segera kalau butuh informasi, supaya tak ada sesal setelah membeli.

You May Also Like

0 comments