Tentang Upaya Melepas Penat

by - Monday, February 22, 2016


Tahun baru saya pikir akan menjadi awal melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti dan membuahkan sesuatu yang belum sempat saya raih di tahun 2015. Memang sebaiknya ekspektasi tak perlu berlebihan dan terlalu tinggi. Apalagi kalau harus membayangkan yang senang-senang saja, itu bisa jadi awal tumbuhnya rasa kecewa.

Akhir tahun 2015, saya menyadari dan sempat menyesal dengan keputusan yang saya ambil. Memang bukan keputusan besar, tetapi setidaknya menjadi bagian dari perjalanan saya mencapai masa yang akan datang. Tentang ujian akhir. Ujian sidang tugas akhir. Pihak kampus sudah mentarget mahasiswanya untuk segera ujian/selesai setidaknya paling lambat akhir Desember 2015. Tetapi saya memutuskan untuk ujian pada Januari 2016. Sebelum pergantian tahun, saya merasakan itu adalah keputusan salah.

Saya jadi teringat kutipan pada film Demi Ucok yang bunyinya begini, "Hanya ada 2 pilihan di hidup ini, takut atau cinta. Kalau takut, udah pasti salah jalan." (lah, kok jadi bawa-bawa pilem, ya? Hihihi). Dan saya takut waktu itu. Bener-bener kepikiran.


Awal tahun baru, tepatnya di Januari justru jalan saya tidak serta merta bisa lancar menuju ujian. Tentu masih harus kesana kemari memperbaiki revisi dan revisi lagi. Tapi yang jadi masalah adalah saya mendadak merasa terlalu stress and feeling on the lowest level of life. Apa yang saya kerjakan jadi tak kunjung selesai, tidak fokus, gampang lelah, mimpi pun sering tidak menyenangkan (makanya sebelum tidur, doa dan cuci kaki dulu, dong! Hihihi). Maka atas saran seorang sahabat, saya memutuskan untuk menutup kegiatan apapun, rehat sejenak, dan pergi jalan-jalan, barangkali karena pikiran yang terlalu penat. Ibarat benang, sudah terkena air dan kusut.

Apa yang bisa dilakukan?

Tentu setiap orang punya cara tersendiri mengumpulkan remah-remah kebahagian untuk dirinya. Begitu pun saya. Selama tiga hari berturut-turut saya melakukan sesuatu yang saya suka dan semoga tidak tergolong gila.

Pergi ke pantai
Pantai memang jadi tempat wisata yang menyegarkan. Melihat ombaknya dan pandangan tanpa batasnya itu, membuat saya merenungi betapa Tuhan itu nggak ada tandingannya, menciptakan air sebanyak itu tanpa tumpah ke ruang angkasa dan tetap melekat di bumi (oke, ini intermezo). Remah-remah bahagia itu saya dapatkan sedikit demi sedikit. Saya datang ke pantai sendiri, duduk lama berpanas-panas di atas batu karang. Memang saya cuma diam saja di sana tetapi pelampiasan itu sudah cukup terlaksana. 

Belanja lah
Saya bukan orang yang maniak belanja. Saya belanja ketika saya butuh. Bahkan bukan barang-barang mahal semacam baju/sepatu/tas dan lain-lain yang biasanya dibelanjakan cewek. Tidak tahu kenapa, di perjalanan pulang dari pantai, saya mampir ke pusat perbelanjaan dan memutuskan untuk membeli apa saja yang saya mau (selama dana mencukupi. Hihihi). Saya banyak membeli snack dan keperluan pribadi saja, sih. Beruntung saya masih waras dan tidak habis sampai Rp 200.000,-.

Ke toko buku
Melihat banyak buku dengan sampul-sampul menarik sudah cukup membuat saya bahagia. Hari kedua, saya memutuskan pergi ke toko buku. Membeli buku yang saya ingin. Saya dapat empat buku sekaligus. Tentu tidak akan habis dibaca dalam satu waktu berturut-turut. Tapi saya merasa senang.

Jalan-jalan dengan Bapak
Minggu, saya terdiam di kamar. Bapak tiba-tiba mengajak saya jalan-jalan. Sepertinya Bapak paham dengan pikiran saya yang sedang kurang karuan. Kami pergi ke kota sebelah, Lumajang, mampir ke warung bakso dan pulang melewati hamparan sungai yang cukup panjang. Yah, setidaknya itu menjadi hiburan yang menenangkan. Hehehe...

Alhamdulillah saya merasa kembali segar. Fokus tugas pun jadi lancar. (Kok, mirip ngiklan ya?)

-----

Dari kejadian kecil ini saya mengambil pelajaran. Untuk mengerjakan sesuatu jangan setengah-setengah. Kalau memang tidak ya tidak, kalau iya, ya lakukan dengan fokus. Kalau mengerjakan dengan setengah-setengah antara serius tapi pikiran tidak fokus, mungkin butuh rehat/'liburan' sejanak (dengan resiko yang juga harus dipertimbangkan) lalu kembali beraktivitas.

Selamat memilih kebahagianmu sendiri. Adakah ceritamu tentang mengumpulkan remah-remah bahagia yang bisa kau bagi denganku?

You May Also Like

0 comments