Buku, Sebuah Rasa Eksistensi

by - Saturday, January 30, 2016

“Buku-buku selalu membuat saya merasa ditemani. Sederhana saja, mereka dapat membuat saya merasa ada.”

Ijinkan saya menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini yang cukup dijawab dalam hati saja.

Sudahkah kamu membaca buku hari ini?
Sudahkah kamu membaca buku di minggu ini?
Atau, sudahkah kamu membaca buku di bulan ini?
Dan sudahkah pula kamu membaca buku di tahun yang baru, tahun 2016 ini?

membaca, membuka jalan cahaya

Baiklah, simpan dulu jawaban pertayaan tadi. Saya ingin bercerita, sebentar saja, tidak butuh waktu yang lama seperti membaca satu buku penuh. Kalau membaca satu postingan blog (tulisan ini) saja terasa tak berselera, bagaimana dengan membaca satu buku yang berisi ratusan halaman? Atau setidaknya, kali ini saja, saya minta kamu untuk berselera dengan tulisan ini.

Kalau bicara soal membaca buku, saya ingat suatu cerita ketika saya di kampus dan duduk di samping seorang kawan yang juga tengah menempuh skripsi, sama dengan saya. Sebut saja Kumbang. Kumbang bertanya pada saya ketika ia melihat saya membaca sebuah buku parenting, “Lho, kamu skripsinya tentang anak, Jeng?”


Saya jawab, “Enggak, memangnya kenapa?”

“Lho, kok kamu baca buku soal parenting?” Timpalnya.

Terus terang saya sedikit aneh dengan pernyataan seperti itu. Hanya atas dasar buku yang saya baca adalah tentang parenting, apa berarti saya sedang mengerjakan suatu tugas kuliah tentang pengasuhan anak? Oh iya, saya berkuliah di bidang kesehatan. Karena saya sedikit kesal, saya jawab tetap dengan tenang, “Apa dalam hidup kita musti baca buku sesuai dengan apa yang sedang ditugaskan pada kita? Aku pikir justru kita seharusnya baca buku apa saja, supaya kita lebih terbuka, siapa tahu suatu saat akan bertemu dengan orang-orang yang di luar bidang yang sedang kita tempuh, sehingga paling tidak, kita nyambung dan bisa diajak berbincang. Ya tidak?”

“Hmm... Gitu ya, Jeng? Bisa jadi, sih.”

“Bukan sekedar ‘bisa jadi’, tetapi memang ‘iya’!” Saya tegaskan dengan tersenyum.

Dari cerita saya tadi, saya jadi berpikir, masihkah banyak orang yang beranggapan bahwa membaca buku hanya sekedar mencari bahan pelengkap referensi untuk menggugurkan kewajiban berupa tugas-tugas sekolah maupun kuliah? Sayang sekali jika seperti itu. Pak Menteri, jangan-jangan beban SKS kami terlalu berat sehingga membaca buku di luar kaitannya dengan tugas dan jurusan kami pun tak sempat? Atau, ini salah bapak dan ibu dosen? Sebab kuliah kami sejak pagi hingga sore dari teori hingga praktikum dan masih di’bekali’ tugas untuk dilahap di rumah. Sudahlah, kami tak sempat membaca buku-buku lain apalagi novel, tidak membantu tugas kami.

terlalu lelah via theodysseyonline.com


Bagaimana? Setuju dengan hal itu? Tunggu, kamu perlu lanjut membaca tulisan ini, abaikan dulu beban SKSmu kalau kamu masih mahasiswa. Saya mau cerita lagi.

Sejak masih taman kanak-kanak, saya suka buku. Benar, ibu guru selalu memberikan saya majalah setiap bulannya. Majalah itu buku, bukan? Ah, cuma majalah belajar mengeja dan mewarnai, sih. Baru ketika saya SD, saya mulai berlangganan majalah anak. Majalah anak yang saat itu terbit mingguan, bagi saya terasa lama, saya bisa habis sekali baca, saking asyiknya. Saya merasa beruntung, bapak selalu membelikannya tiap terbit.

Membacakan dongeng pada adik

Saya tidak pernah ada niatan untuk menjual apalagi membuang majalah maupun buku bacaan sewaktu kecil. Kasihan rasanya. Karena saya akan senang ketika saya bisa membacakan atau sekedar menunjukkan buku-buku itu untuk anak-anak kecil. Meskipun mereka lebih banyak peduli pada gambar-gambarnya, paling tidak itu adalah langkah awal yang bagus untuk membuat mereka menyukai buku sejak dini. 

Sekarang pun, saya masih suka dengan buku. Ayolah, lupakan sejenak beban SKS kita itu, luangkan untuk membaca buku. Sebisa mungkin dalam tiap minggunya saya mampir ke toko buku. Meski nanti tidak membeli, setidaknya saya akan tahu buku apa saja yang baru rilis dan sedang laris. Dalam tiap bulan, saya tidak tentu ada berapa buku yang saya beli, sebab menyesuaikan dengan jumlah dana juga. Hihihi... Karena yang paling penting adalah membacanya, jika saya belum sanggup membelinya, saya akan pergi ke perpustakaan daerah untuk meminjam buku. Hayo, sudah punya kartu anggota perpustakaan belum?

pose terseksi adalah berada di antara kumpulan buku, sepakat?


Membaca dan memiliki banyak buku, bagi saya adalah kebahagiaan tersendiri dan istimewa. Kebahagiaan yang tidak dapat dirampas orang lain. Sebab dengan buku di sekitar saya, saya tidak merasa sepi, saya merasa ada untuk mereka, begitu pula mereka (buku-buku) ini. Bahkan ketika saya sedang down karena suatu masalah, saya bisa tersenyum lantaran saya memiliki dan menyukai buku. Hal yang belum tentu dimiliki kebanyakan orang. Iya, memang seberlebihan itu saya terhadap buku. 

Saya juga tidak lupa untuk selalu menyampul buku-buku sebelum saya baca, supaya tidak mudah rusak.  Sebab merawat buku sejak masih baru itu penting. Saya teringat kata seorang guru SD saya, jika buku bisa berbicara, mungkin mereka akan bicara seperti ini:

"Cintailah aku, maka aku akan mencintai kamu."

Oh iya, sekarang ini dunia makin digital. Punya akun di setiap sosial media seperti Twitter, Facebook, Instagram, Line, apapun itu? Wah, kamu sudah kekinian, ya. Tapi kalau akun Goodreads punya nggak? Di situ kamu bisa ikut tantangan membaca. Misalnya kamu ingin membaca lima puluh buku dalam setahun, Goodreads akan jadi pemantau progresmu di reading challenge. Dengan begitu, akan lebih semangat untuk membaca dan segera menyelesaikannya.

Misalnya saja, saya sedang membaca Stiletto Book yang berjudul Dear Friend With Love, masukkan saja ke rak ‘currently reading’, setalah tamat membaca, pindahkan ke rak ‘red’ yang dalam artian sudah dibaca, maka progres tantangan membaca bukumu pun bertambah. Dan tentu saja, yang menarik, saya juga bisa menyertakan review tentang Dear Friend With Love dari Penerbit Buku Perempuan yang saya baca ini. Jangan ketinggalan keren hanya karena belum punya akun khusus pembaca buku, ya. Hihihi...

Stiletto Book on goodreads


Memang saya suka sekali menumpuk buku dan berkeinginan memiliki perpustakaan kecil. Saya pun mencoba menerapkan dengan menjadi perpustakaan berjalan bagi teman-teman saya di kampus, meskipun tidak banyak yang berkeinginan membaca atau meminjam. Saya biasanya membawakan buku-buku fiksi yang sudah dipesan teman-teman sebelumnya.

Untuk melatih disiplin di antara kami, saya menerapkan peminjaman menggunakan kartu identitas dan saya beri waktu paling lama satu minggu. Supaya mereka terpacu juga untuk segera menyelesaikannya. Jika terlambat mengembalikan, saya kenakan denda RP 300,- perbuku dalam satu hari. Ada yang menilai saya berlebihan. Ah, untuk sebuah tanggung jawab dan mendorong minat baca, kenapa tidak?

Terkadang, saya suka mengajak teman-teman kuliah ke taman baca. Siapa tahu mereka juga ikut suka. Meskipun mereka di sana lebih suka berfoto dengan buku. Ah, bukankah awal yang baik?

Di taman baca Kampoeng Batja, Jember, sepulang kuliah dengan teman.


Bagaimana? Terlalu panjang kah tulisan ini? Iya, iya, tunggu dulu, sebentar lagi selesai. Kalau kamu lelah membacanya, silakan akhiri membaca tulisan ini sampai di sini, asalkan segera lah membuka dan baca buku.

Masih ingat pertanyaan saya di awal tulisan tadi? Ah, saya terlalu banyak bertanda tanya memang. Ya sudah, saya ingin bertanya di pertanyaan terakhir saja. Tahun 2016 ini, sudah berapa buku yang kamu baca? Yuk, kita baca buku lebih banyak. Buku-buku fiksi sekalipun. Sebab dalam fiksi pun tersimpan wawasan dan tentu membuat kita berimajinasi. Asyik, kan!

Iya, tulisan ini sudah berakhir, kok. Setidaknya, dengan membaca tulisan ini, kamu telah berlatih untuk menyukai kegiatan membaca, selamat, ya! Kamu istimewa! Hihihi...

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Ulang Tahun Kelima Stiletto Book. 
kontak saya, Ajeng Veran di:
email : ajeng.verantika@gmail.com
ID twitter: @ajengveran


You May Also Like

15 comments

  1. Tulisan yg santai tapi menantang... makasih motivasinya jeng..!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo abang, makasih juga ya doa-doanya...
      Mehehehe... Su baca berapa buku ne? :p

      Delete
  2. Replies
    1. Amin...
      Nanti kudu mampir perpusku ya sama anak-anak kamu :*

      Delete
  3. Replies
    1. InsyaAllah bulan Maret deh sa bagi kesana
      okee kakaa?

      Delete
  4. wah bagus banget tulisannya, saya merasa tersindir karena masih mengkotak-kotakkan bacaan hanya terfokus pada apa yang saya tekuni, hehe makasih pencerahannya, dan terus berkarya mbak ajeng :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa kali mas, yang penting tidak menutup diri dari buku-buku di luar konsentrasi kita. Heheh
      terima kasih sudah mampir, nanti kukunjung balik. :D

      Delete
    2. haha siap mampir-mampir lah di blog ku, kita ngopi-ngopi bareng wkwkwk

      Delete
    3. Mantap mas...
      keep writing about the books :D

      Delete
  5. baca artikel ini jadi teringat tumpukan buku baru yang belum sempat dibaca, huhuhuu.., niatin lagi ah utk rajin baca.. makasih artikelnya yaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai kak @zataligouw :)
      Iya nih bener, kadang yang dibeli udah numpuk tapi yang dibaca masih belum banyak ya hihii ... Fighting!! :)

      Delete
  6. dulu aku suka baca buku artinya sempat suka membeli selain utk baca kyakya melihat koleksi susunan buku itu terkesan keren jd nya.eeh kesininya hobby itu ilang hehe bkn hobby kali tepatnya. mgkn koleksi buku bacaan udh ga ada lg aku. tp minat baca msh ada lah tp media lbh ke cari gampang mgkn dgn googling.. biarpum bacaannya lbh ke rubrik cerita motivasi yg pendek2 atau kajian resep. ahaha..
    tetap aku tks bgt utk ajakan yg menginspirasi banget ini Jeng.sukses utk kamu.. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, hai Manop.. :)
      Saya senang Manop sempatkan mampir ke rumah mayaku ini. hehehe... oH iya, sekarang kan memang eranya digital ya, jadi makin tak terbatas lagi apa yg bisa kita baca, lagiah buku-buku pun sudah bnyak yang versi digital. Saya pikir maslah selera aja kali ya, Manop.
      Trims Manop, sukses juga untukmu... :* :*

      Delete
  7. dulu aku suka baca buku artinya sempat suka membeli selain utk baca kyakya melihat koleksi susunan buku itu terkesan keren jd nya.eeh kesininya hobby itu ilang hehe bkn hobby kali tepatnya. mgkn koleksi buku bacaan udh ga ada lg aku. tp minat baca msh ada lah tp media lbh ke cari gampang mgkn dgn googling.. biarpum bacaannya lbh ke rubrik cerita motivasi yg pendek2 atau kajian resep. ahaha..
    tetap aku tks bgt utk ajakan yg menginspirasi banget ini Jeng.sukses utk kamu.. :*

    ReplyDelete