Jika Aku Milikmu – Bernard Batubara, Mimpi, Cinta, dan Keragu-raguan

by - Monday, January 25, 2016


Adalah fiksi pertama yang saya baca di tahun 2016. Sebenarnya telah ada di tangan sejak 2015 awal Desember. Entah kenapa untuk memulai membacanya butuh waktu cukup lama, sepertinya saya harus mengakhiri pengingkaran-pengingkaran yang tak berasalan jelas ini. 24 Januari, akhirnya selesai juga.


Jika Aku Milikmu

Dan, untuk karya-karya Bernard Batubara, saya selalu merasa berkewajiban memilikinya. Iya, karena dia salah satu penulis muda Indonesia favorit saya. Saya jatuh cinta sejak pertama mengenal cerita pendek dalam kumpulan cerpen di buku Milana oleh Bara Ngomong-ngomong, Jika Aku Milikmu ini adalah buku Bara yang kedelapan. Lihat betapa produktif sekali penulis kelahiran 1989 ini.




Sinopsis

Terkisah seorang laki-laki bernama Sarif Tizarudin, yang berkuliah di Jakarta karena berambisi mengejar mimpinya sebagai seorang penulis, yang sebenarnya ditentang oleh ayahnya sendiri, yang berasal dari Pontianak. Setelah ia menyelesaikan kuliahnya ia kembali ke Pontianak dan dimintai bantu sang Ayah, Marwan Tizarudin yang saat itu mencalonkan diri sebagai walikota. Nur, gadis pemain biola yang sejak SMA telah jatuh hati dengan Sarif akhirnya menerima pernyataan cinta dari Sarif setelah sekian lama menunggu. Hubungan mereka berjalan manis hingga pada cerita seorang sahabat Sarif, Mei, menjadi alasan keragu-raguan Nur untuk terus mempertahankan Sarif menjadi kekasihnya. Mei, seorang gadis cantik, berkulit kuning, dan tak pernah habis bahan pembicaraan dengan Sarif itu menaruh hati pada Sarif.

Sarif – bertekad membuktikan kepada ayahnya bahwa ia mampu hidup menjadi seorang penulis dan ia penuh ambisi mengejar mimpinya.

Nur – keahliannya memainkan biola belum cukup mampu membuatnya yakin atas kesempurnaan yang ia miliki dan menjadi ragu atas kelebihannya itu untuk memperjuangkan cita dan cintanya sebab masih ada yang lebih penting dalam hidupnya, Ibu.

Mei – pesaing menulis Sarif, teman diskusi yang menyenangkan, dan seorang Sarif lah yang mampu membuat ia merasa menemukan siapa dirinya sebenarnya, namun ia harus bersaing dengan Nur untuk mendapat hati Sarif.

Keragu-raguan Nur makin kuat ketika Marwan, ayah Sarif menyuruhnya pulang pada suatu acara makan malam setelah Nur mengungkapkan siapa ayah Nur kepada Marwan. Masa lalu menjadi alasan Marwan atas sikap yang diambilnya itu.

Bagaimana kisah cinta antara Nur, Sarif, dan Mei berujung? Akankah Sarif memilih Nur, cinta sejak masa SMAnya itu, atau justru Mei dengan segala kecantikan dan wawasan yang ia miliki? Lalu apakah yang mendasari Marwan tidak menyukai kehadiran Nur sebagai kekasih Sarif? Pada novel ini, semua saling berhubungan atas dasar cinta, dan persahabatan yang membentuk konflik.

***

Yang menarik, novel ini juga mengangkat kritik seputar pembalakan liar. Bara juga mengeksplorasi latar tempat, Pontianak lewat novelnya kali ini. Secara umum novel ini berkisah mengenai pertentangan cinta dan mimpi yang sama-sama perlu diperjuangkan. Keunggulan Bara, ia selalu menyisipkan kalimat-kalimat kutipan yang bagus dalam bercerita. Jadi, dalam novelnya kali ini, Bara mencoba mengungkapkan apa yang ingin disampaikan (tentang pengejaran sebuah mimpi dan pesan moral aktivitas penebangan ilegal) melalui sebuah cerita panjang berupa novel. Bahwa ada kebenaran yang terselip dalam sebuah fiksi. Tetapi, tidak dapat saya pungkiri, saya tetap merasa jatuh cinta lebih sedikit pada karya Bara berupa kumpulan cerpen.

Membaca Jika Aku Milikmu ini, seperti menyelami kehidupan pribadi Bara. Sarif dikisahkan sebagai seorang lelaki yang berambisi ingin menjadi penulis dan berkuliah di luar kota di mana asal Sarif sendiri adalah Pontianak, sama seperti penulis. Mungkin Bara sengaja meletakkan karakternya sendiri sebagai tokoh fiksi karangannya. Dan mungkin memang begitu, tokoh dalam sebuah cerita fiksi di ambil dari kehidupan nyata yang dibumbui segala macam sifat dan sikap yang makin mencolok supaya karakter dalam cerita itu makin hidup dalam artian tidak datar atau biasa-biasa saja.

Novel ini dilengkapi kutipan-kutipan manis pada tiap bab, pembaca yang sedang jatuh cinta atau menyimpan cinta pasti akan tersenyum dibuatnya. Ilustrasi-ilustrasi IBG Wiraga juga tak kalah cantik di buku ini. Ada pilihan untuk menikmati buku ini, ceritanya, kedalaman kalimatnya, atau dua-duanya.

Meski penceritaan Bara di buku ini terkesan sangat melankolis dan mendayu, tetapi tak mengurangi rasa ingin menghabisi hingga halaman terakhir. Dan, masih ada beberapa typo di novel cetakan pertama ini.

Kutipan yang paling saya suka, ketika Mei dan Nur membicarakan kebenaran dan pembalakan liar, “Semua orang mencuri, Nur. Hanya berbeda cara dan objeknya. Kamu mencuri hati Sarif dari dirinya.” (Mei, halaman 231)

Ah, ada lagi, "Kesedihan datang bukan karena mimpi yang pudar, melainkan karena kehilangan orang yang sudah membuat kita bermimpi." (halaman 68). Saya selalu suka berbicara mengenai mimpi.

Satu hal yang ganjil menurut saya tentang ceritanya. Bara mengisahkan, Nur tidak lagi bermain biola saat sang ibunda bertanya, “Nur, kamu masih main biola?” (halaman 131). Tetapi pada saat Marwan, ayah Sarif bertanya pada Nur tentang keluarganya, Nur menjawab bahwa ayahnya telah meninggal dan ibundanya sudah tidak bekerja maka Nur yang bekerja sebagai guru les biola. Jika hal itu terjadi di dunia nyata, apa yang sebenarnya dikatakan Nur pada ibundanya tentang pekerjaan Nur dan bagaimana ia memperoleh biaya hidup? Hehehe... Mungkin ada yang terlewat sehingga saya berkesimpulan seperti itu atau memang ini detil yang tidak perlu diperdebatkan mendalam, ya.


Teman-teman sudah baca buku ini? Apa pendapat kalian?

You May Also Like

2 comments

  1. Wah review yang menarik, aku belum punya novel Bara, thanks infonya mbk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih mbak, aih novelnya tidak kalah menarik pun hihi
      iya mbak, sama-sama ya.. :)

      Delete