Sindrom Molor Skripsi

by - Tuesday, December 08, 2015

Skripsi bisa menjadi momok bagi mahasiswa tingkat akhir yang nggak berakhir-berakhir. Mungkin bagi mahasiswa yang rajin, yang masih kumpul seangkatan, skripsi tidak terlalu menjadi beban secara psikologis. Tetapi, bagi mahasiswa yang udah telat lulus, yang masa tugas akhirnya (seharusnya) udah lewat, yang teman-teman seangkatannya udah pada wisuda, hal itu menimbulkan tekanan sendiri. Oke, ini hal-hal yang mungkin dirasakan sebagai sindrom mahasiswa molor skripsi. Sesuai dengan judul, sindrom, kumpulan gejala seputar perasaan yang dirasakan mereka, ah, saya sih. Hehehe...

stress via badalitherapy.com


Takut Lihat HP
Beberapa orang, berdasarkan survey dan pengalaman, mereka lebih senang menerima sms dari operator atau
mama minta pulsa daripada sms dari dosen pembimbing secara tiba-tiba. Terima sms dari dosen itu bikin suasana horror. Pernah saya lagi nonton acara komedi, tertawa-tawa, kemudian datang sms, "Besok menghadap, ya." Acara komedi berasa tragedi tiba-tiba. Pun kalau ada teman sms tanya, "Skripsimu sampai mana? Eh besok ngampus nggak?" Jadi paranoid sendiri rasanya.

Liburan Tak Tenang
Orang yang sedang stress, dalam tekanan, biasanya butuh piknik, hiburan, dan liburan. Tetapi, senikmat-nikmatnya liburan, kalau tiba-tiba mengingat satu hal yang belum terselesaikan, kesenangan akan berkurang. Maunya tenang jadi makin kepikiran. Tetapi, saya pikir justru itu pertanda baik, pertanda masih ingat akan kewajiban yang musti dirampungkan segera, pertanda hatimu masih hidup karena perasaan bersalah entah pada diri sendiri maupun orangtua.

Sensitif dengan Skripsi
Tidak menampik kemungkinan saat beli makanan ayam krispi pun akan teringat skripsi. Misalnya judul saya tentang 'karakteristik individu', setiap melihat acara atau terceletuk dari orang tentang karakteristik, otomatis pikiran terbawa pada si tugas akhir itu. Ah, dunia kadang selebar gang.

Pokoknya Sensitif Aja, Gitu!
Ini kalau sudah kronis, ditanya "sampai bab berapa," saja akan dijawab sinis. Lihat mobil di jalan yang mirip mobilnya dosen pembimbing pun bawaannya suka deg-degan. Lihat nama orang yang namanya mirip dosen pembimbing pun bisa bikin nafas lebih berat.

Menghindari Pertemuan Keluarga 
Bakal males kalau sudah ditanya “masih kuliah ya?” karena bakal berekor panjang, “Jurusan apa?” lanjut “Semester berapa?” sampai pada akhirnya, “Lho kok belum lulus?!” ini kalau si penanya cukup sadis. Eh tapi justru saya sendiri masih aman setiap kali ikut reuni orang tua saya. Sebab saya justru ditanya, "Sekolah dimana?" . Hihihi... Keuntungan jadi cewek kurang tinggi kali, ya? 

Kampus Jadi Tempat Asing
Saya sendiri merasa, kampus sudah bukan tempat saya lagi, bukan waktu saya lagi. Banyak wajah-wajah baru yang tidak saya kenal, yang masih bersemangat mengerjakan tugas-tugas berkelompok dan sesekali tertawa. Kadang-kadang saya jadi rindu berada di dalam kelas perkuliahan.

Males Pulang Kampung, Tapi Kangen
Takut ditanya orang tua, akhirnya pas liburan atau weekend nggak pulkam. Beberapa teman yang bernasib sama memilih untuk tetap tinggal di kost. Ah, untungnya orangtua saya bukan orangtua yang menekan. Saya bersyukur sekali akan hal ini. Dulu saat pernah tidak pulang kampung, saya dan seorang teman berjalan-jalan ke area kampus, dan melihat area kampus sepi (iya lah namanya hari libur), tiba-tiba ia berceletuk, "Kok kampus sepi ya? Apa cuma kita yang belum lulus?" Hash...

Terbawa Mimpi: Seminar, Sidang, Wisuda
Mimpi terkadang adalah rekaman alam bawah sadar tentang harapan-harapan yang sedang begitu ingin direalisasikan. Saya pun pernah bermimpi dapat penguji killer, dan syukur cuma mimpi. Pernah bermimpi ujian sidang, tetapi sayangnya mimpi. Ah, mimpi terus, bangun, yuk! :)

Lulus is coming soon - Ajeng Veran



Dari hal-hal di atas, kadang sebagai teman justru serba salah mau bersikap bagaimana supaya tidak menyinggung hati seseorang yang sedang menempuh skripsi (yang lama). Tetapi saya yakin, hal itu banyak hikmahnya. Saya berproses, saya banyak gelisah sehingga banyak berpikir pula, malah saya merasa banyak belajar hal baru, dan kedepannya hal itu akan jadi refleksi dan pelajaran untuk orang-orang setelah saya. Justru kalau saya lulus sejak dulu, saya mungkin tidak pernah menulis hal ini.




Skripsi Quote - Ajeng Veran

Yah, bagaimana pun, kamu/saya sudah memulai tugas akhir itu, menyelesaikannya adalah keharusan, sebagai tanggung jawabmu pada bapak dan ibu. Masalah kapan selesainya, itu tergatung kemauan, bukan sekedar kemampuan. Tetap jaga api semangatmu, sekecil apapun itu.

Kalau ada hal lain yang pernah kalian rasakan, share di komentar ya! 

You May Also Like

5 comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Semua sudah ku rasaa....
    :')
    Oh dunia ini serba sensitif gegara skripsi....
    dospem kebetulan mirip artis semua...
    setyp denger kata grisha dan syahrini entah kenapa aq lgsg baper.... dunia lgsg jd cm abu2 *buta warna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahah...
      Iya ya, mirip artis. Kita musti syukur pernah ngerasain ini ya.

      Delete
  3. ahahah, skripsi meningkatkan kecemasan dek. kalo ada temen mcall, sms, bbm suka keder.. padahal cman nanya kapan ngampus ? 😁😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak. Tiba-tiba jadi paranoid dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang seharusnya gak butuh mikir berat buat jawab. Hihi...
      Faigk!!

      Delete