Review Jatuh Cinta - Bernard Batubara, Sebab Cerita Cinta Tak Lantas Berujung Bahagia

by - Thursday, November 12, 2015

Jatuh Cinta


Sebagian orang menjadikan cinta sebagai alasan untuk bahagia bahkan terus bersemangat dalam hidup, tetapi tidak sedikit pula yang menyimpan pandangan bahwa cinta bisa menjadi alasan manusia melakukan sesuatu yang menyakiti bahkan bunuh diri. Cinta tidak selalu tentang perasaan suka cita, tetapi juga kedukaan yang
terselip di dalamnya. Cerita cinta yang menceritakan kisah cinta dari sisi gelap itulah yang diceritakan oleh Bernard Batubara, penulis muda yang telah melahirkan buku ketujuhnya dengan judul panjang yakni, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri.

Cerita pertama dibuka dengan kisah seorang penjual kopi yang memiliki istri cantik bernama Hamidah. Penjual kopi tersebut didatangi oleh seorang lelaki yang menceritakan tentang seorang wanita cantik yang membunuh suaminya dan tak pernah kembali. Lelaki tersebut berpesan pada si penjual kopi bahwa jika memiliki istri cantik harus dijaga. “Aku menceritakan ini kepadamu agar kau berhati-hati menjaga istrimu.” (hal. 11). Cerita berjudul Hamidah Tak Boleh Keluar Rumah ini ditutup dengan akhir yang mengejutkan sehingga pembaca dibuat penasaran untuk lanjut membaca cerita lainnya.

“Aku tertawa-tawa. Daun-daun, ranting-ranting, dan akar-akar sahabatku itu selalu bisa menghiburku.” (hal.20). Dari kutipan tersebut menampakkan bahwa tokoh ‘aku’ bukanlah seorang manusia. Cerita kedua dari buku ini ditulis dari sudut pandang berbeda, yaitu kuntilanak. Nampak seperti cerita horor, namun inilah uniknya bahwa hantu juga memiliki kisah cinta.

Cerita unik dan berbeda yang dihadirkan penulis juga muncul dalam cerita dengan judul “Seorang Perempuan di Loftus Road”. Perempuan bisa menunggu dengan cukup lama akan seseorang yang dicintainya. Bahkan, perempuan dalam cerita ini berubah menjadi sebatang pohon yang dengan setia menunggu di tempat ia biasa menunggu. “Aku tidak ingin menjadi manusia lagi. Aku akan terus hidup sebagai sebatang pohon dan menyimpan air mata.” (hal. 39). Begitu dalamnya perasaan manusia yang benar-benar mencintai sampai harus membuatnya rela menunggu sampai kapanpun. Penulis mengemasnya dengan kalimat-kalimat yang menyentuh dan menunjukkan sisi miris cinta yang tidak manis.

Pembaca juga diajak menyelami cerita dari seseorang yang misterius dengan nyctophilia, menemukan kenyamanan dalam kegelapan, yang lebih terdengar seperti sebuah kelainan. (hal. 188). Levin Limark yang begitu mencintai Jamelia, perempuan yang mengidap nyctophilia itu, akhirnya mengetahui penyebab yang sebenarnya mengapa Jamelia menyukai kegelapan saat Jamelia di bawah nyala lampu terang. Namun hal itu menyebabkan terbunuhnya Levin Limark. Pada cerita ini memperlihatkan bahwa cinta tak hanya membuat bahagia tumbuh, namun mampu membunuh.

Judul yang diambil untuk buku ini terletak pada cerita terakhir. Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri, yang merupakan judul terpanjang dari 15 cerita dalam buku ini. Cerita pada bab akhir ini menceritakan keinginan yang begitu menggebu hingga mampu membuat lelaki ingin bunuh diri untuk bisa dekat dengan seorang wanita yang dicintainya. Tokoh lelaki yang disajikan penulis dalam cerita ini bukan manusia, melainkan malaikat yang turun ke bumi, “Mungkin kau bertanya, mengapa aku tidak jatuh cinta kepada malaikat saja, dengan sesamaku?” (hal. 286).

Beberapa cerita cinta lain yang ‘menyakitkan’ di buku ini juga tak kalah menarik untuk dibaca seakan memaparkan bahwa kisah cinta tak selalu tentang manis, terang, senyum, maupun tawa. Di dalam buku ini terlihat kepiawaian penulis dalam membuat cerita-cerita pendek dari sudut-sudut pandang yang unik dan dengan akhir yang kadang tidak dapat ditebak dengan mudah. Kalimat-kalimat tentang cinta yang disajikan juga cukup indah dan dalam untuk direnungkan sebagai cinta yang membuat seseorang mampu melakukan hal yang tidak terduga dan mencelakai sekalipun.



Data Buku

Judul Buku : Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri
Kategori : Kumpulan Cerita
Penulis : Bernard Batubara
Editor : Ayuning & Gita Romadhona
Penerbit : Gagas Media
Tebal Buku : vi + 294 Halaman
ISBN : 979-780-771-1
Tahun Terbit : Desember, 2014
Harga : Rp 50.000

You May Also Like

0 comments