Review Gadis Pantai - Pramoedya Ananta Toer, Perempuan dalam Pengabdian dan Perintah

by - Sunday, November 08, 2015

Gadis Pantai


Ini pertama kalinya saya memiliki buku Pramodya Ananta Toer, yang namanya sudah pasti tak sedikit yang mendengarnya di kalangan penggemar buku dan sastra. Sebenarnya saya sudah pernah membaca buku-bukunya ketika saya masih SMA, sekitar tujuh tahun yang lalu, namun masih pinjam ke salah satu teman bapak yang punya banyak koleksi buku. Saat itu, yang saya baca hanya yang tipis-tipis saja sepeti Cerita Calon Arang dan Midah Si Manis Bergigi Emas. Bahkan isinya pun saya sudah tidak terlalu ingat. November ini saya tergerak
membeli satu dari bukunya, Gadis Pantai, sebuah roman tentang feodalisme Jawa yang tak memiliki jiwa kemanusiaan.

Tahun 2015 ini sebenarnya saya lebih banyak membaca buku-buku komedi, semacam sedang melakukan pencairan pada pikiran yang dirasa mulai membeku. Namun saya pada akhirnya haus dengan buku-buku yang berbau sejarah tetapi tak memusingkan seperti buku diktat sekolah yang dipenuhi data dan tahun, sehingga pilihan saya jatuh pada buku Pram yang sudah saya sedikit tahu tulisannya ringan dibaca walaupun yang ia ceritakan bukan kisah-kisah ringan.

Gadis Pantai, seorang gadis putri nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Ia dijadikan istri percobaan pembesar dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani kebutuhan seksual pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan yang sederajat dengannya. Meski pada awalnya Gadis Pantai dipandang telah menaikkan derajat kampungnya, tetapi setelah putrinya lahir, ia dibuang kembali ke kampungnya.

Pram membuka cerita dengan kondisi chaos dimana Gadis Pantai dibawa dalam iring-iringan menuju kota tempat priyayi yang akan menjadikannya istri, yang tak lebih dari istri percobaan. Sesampainya di rumah Bendoro, suami Gadis Pantai kini, suasana semakin menegangkan sebab Bendoro yang sosoknya masih dirahasiakan dan tak semua orang boleh menemuinya. Gadis Pantai bertambah dengan ketakutannya akan hilangnya keceriaan sebagai gadis pantai dan dengan perasaan menerka-nerka seperti apa suaminya, bagaimana jika ia tinggal dalam rumah besar berbenteng batu di lingkungan priyayi ini.

Pada kisah berikutnya, ketika Bendoro pertama kali menemui Gadis Pantai, Pram mengubah bayangan saya tentang Bendoro yang awalnya digambarkan keras, penuh aturan, dan menakutkan, dengan halus Pram menggiring ke gambaran bahwa Bendoro memiliki sikap tenang, berwibawa, dan bijak dalam menghadapi Gadis Pantai. Gadis Pantai mulai diajar cara melayani Bendoro sebagai wanita utama, didatangkan guru ngaji, termasuk belajar mengatur perasaannya.

"Wanita utama harus belajar berhati teguh, kendalikan perasaan dengan bibir tetap tersenyum." (Halaman 44)

Tidak ada cerita kasih berkasih indah antara suami dan istri dalam roman ini, lebih tepatnya cukup sebagai Bendoro dan sahayanya. Sahaya yang hidupnya adalah mengabdi dan menunggu perintah. Untuk mengungkapkan perasaan rindu pada suami pun, tak patut. Apalah arti cinta seorang perempuan kepada suaminya, tak lebih baik dari pengabdian dan perintah yang harus ia emban selama berada di rumah Bendoronya. Gadis Pantai pun kehilangan kehidupannya sebagai gadis pantai karena ia harus menjalani kehidupan barunya yang "sempit".

Rupanya cerita ini terjadi pada masa beberapa tahun setelah R.A Kartini meninggal, sekitar awal abad ke XIX. Pada masa Deandels, masa kerja rodi. Dan Bendoro pun adalah seorang Jawa yang bekerja pada Belanda.

Tentang pengabdian dan perintah yang diemban Gadis Pantai pun sampai pada ia harus mengorbankan dirinya sendiri sebagai ibu, yang harus melepas anaknya sendiri. "Apa yang takkan kuberikan kepadamu, Nak? Apa yang takkan kukorbankan? Sekarang, sekarang hakku sebagai ibumu pun kurelakan buat kau!" (Halaman 259).

Tetap menjadi rahasia bagi saya, bagaimana Bendoro bisa memilih Gadis Pantai sebagai istrinya karena Pram tak menjelaskan bagaimana proses awalnya. Dan akhir yang juga rahasia bagi pembaca tentang kemana perginya Gadis Pantai setelah semua yang ia alami dalam penderitaannya sebagai perempuan mantan gundik priyayi itu.

Buku ini telah membawa kembali jiwa membaca saya. Menemukan kembali makna paling besar dalam membaca sebuah buku, perasaan diceritakan dan wawasan yang berkesan.


Data Buku:

Judul Buku: Gadis Pantai
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Tahun Terbit: 2003 (Cetakan I); 2005 (Cetakan X)
Kategori: Roman
Tebal Buku: 272 halaman

Harga: Rp 75.000,-

You May Also Like

0 comments